Pengungsi Rohingya Tinggal Berjejalan di Kamp Banglades - Kompas.com

Pengungsi Rohingya Tinggal Berjejalan di Kamp Banglades

Kompas.com - 17/07/2017, 09:40 WIB
Para pengungsi Rohingya, sebagian adalah anak perempuan, yang memasuki Banglades untuk menghindari kekerasan di Rakhine, Myanmar, Senin (21/11/2016).Reuters Para pengungsi Rohingya, sebagian adalah anak perempuan, yang memasuki Banglades untuk menghindari kekerasan di Rakhine, Myanmar, Senin (21/11/2016).

DAKKA, KOMPAS.com - Di wilayah tak lebih dari dua kilometer persegi saja terdapat 20.000 pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar di daerah Leda, Teknaf, Cox's Bazar, wilayah pesisir Banglades selatan.

Inilah salah satu kamp di Banglades untuk pengungsi Rohingya, yang melarikan diri dari Myanmar karena mengklaim telah mengalami penindasaan, diskriminasi, dan kekerasan di negara bagian Rakhine, tempat kelompok minoritas Rohingya ini tinggal.

Pemerintah Myanmar telah berulangkali menyangkal tudingan bahwa militernya telah melakukan kekerasan terhadap warga minoritas Rohingya itu.

Letak geografis yang hanya dipisahkan oleh Sungai Naf menjadikan Banglades sebagai salah satu tujuan utama pelarian orang-orang Rohingya.

Oleh sebab itu, jumlah pengungsi Rohingya di Banglades diperkirakan melebihi angka 400.000 orang.

Berjejalan di satu petak

Sebagian besar mereka menempati kamp-kamp di Distrik Coz's Bazar, wilayah terdekat dengan Rakhine.

Di kamp pengungsi di Leda, barak terbuat dari dinding bambu dan atap dari daun pinang ditambal dengan terpal. Adapun lantainya adalah tanah semata.

Baca: Banglades Akan Pindahkan Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil

Tungku tanah liat beserta beberapa peralatan dapur, bumbu, tikar tidur dan pakaian menyatu dalam satu ruang itu.

Di musim hujan seperti pertengahan tahun sekarang, angin kencang kerap membuat atap-atap beterbangan.

"Dua keluarga tinggal bersama dalam satu petak barak tidaklah mudah, khususnya menyangkut makanan dan ruang gerak. Tidak ada ruang untuk bergerak. Ada pula masalah sanitasi. Semuanya menjadi masalah," ungkap Khadija, salah seorang pengungsi Rohingya.

Khadija (25), punya dua putra masing-masing berusia tiga tahun kelahiran Myanmar, dan putra bungsunya, tujuh bulan, lahir di barak ini tepat 15 hari hari setelah tiba di Banglades pada November 2016, menyusul operasi militer di negara bagian Rakhine pada bulan sebelumnya.

"Air bersih terbatas. Setiap hari kami dapat dua ember air, jika ada cukup air maka anak-anak saya bisa mandi. Saya mandi sekali seminggu dan membawa air dari tempat penampungan yang agak jauh. Kalau suami sedang di rumah maka ia mengambil air."

Akses kesehatan

Khadija berbagi barak dengan bibinya yang juga punya anak berkebutuhan khusus.

Praktis di barak ini hanya dihuni perempuan dan anak-anak karena suami Khadija buruh di kota dan tidak setiap minggu pulang.

Keberadaan anak kecil tampak di mana-mana, sebagian tak berpakaian dan sebagian berpakaian lusuh tanpa alas kaki pula walaupun lingkungan tempat tinggal becek.

Keputusan politik Myanmar, yang mayoritas penduduknya Buddha, sejauh ini belum ada terkait pemecahan status Rohingya.

Baca: Cerita Nelayan Aceh Selamatkan Pengungsi Rohingya dari Tengah Laut

Di Myanmar, kelompok minoritas Rohingya itu tidak diakui sebagai warga negara tetapi dianggap sebagai pendatang asal Bangladesh meskipun mereka telah hidup di Myanmar secara turun temurun.

Myanmar tidak mengenal istilah Rohingya dan menggunakan sebutan 'orang-orang Bengali'.

Di Banglades, mereka juga tidak dianggap sebagai warga negara.

Menurut Bank Dunia, negara itu baru saja masuk kategori pendapatan menengah ke bawah dengan pendapatan per kapita antara 1.006 dollar dan 3.955 dollar AS atau sekitar Rp 13,5 juta hingga Rp 53 juta, status yang sudah diduduki Indonesia sejak 1990-an.

Kondisi ekonomi itu tak membantu memudahkan pemerintah setempat dalam mengurus pengungsi, kata Bupati Cox's Bazar, Mohammad Ali Hossain.

"Negara kami tidak kaya. Rata-rata penghasilan kami sangat rendah tetapi kami kesulitan mengubah nasib kami. Sumber daya di daerah-daerah terutama Cox's Bazar, tidak cukup.”

“Sebagian besar kawasan terdiri dari hutan dan perbukitan. Lingkungan setempat dirusak oleh orang-orang ini, pohon-pohon dan kawasan perbukitan rusak dan oleh karenanya lingkungan kami tercemar."

Selain lingkungan, lanjutnya, layanan kesehatan juga digunakan di luar kapasitas.

"Bahkan fasilitas kesehatan kami begitu terbatas. LSM setempat dan asing menyediakan sebagian bantuan tetapi tak cukup sehingga satu persoalan menimbulkan masalah lain yang kami hadapi," tegas Mohammad Ali Hossain di Cox's Bazar.

Perawatan untuk luka di Myanmar

Masalah sanitasi dan kesehatan menjadi prioritas mendesak terutama di musim hujan seperti sekarang.

"Mereka sangat rentan, mereka terusir dari negara lain. Mereka tinggal di penampungan sementara jadi terdapat banyak persoalan kesehatan seperti layanan ibu melahirkan, penyakit-penyakit umum, seperti penyakit kulit, kekurangan air, rumah yang terkontaminasi," kata Koordinator Kesehatan Organisasi Migrasi Internasional (IOM), dr Niranta Kumar Dash.

Baca: Etnis Rohingya: Tak Berstatus, Ditindas, dan Mengungsi

Di samping itu, lanjut dr Dash, banyak di antara mereka masih perlu perawatan rutin karena luka-luka yang mereka alami di Myanmar.

"Banyak pula yang mengalami cedera akibat berjalan di kawasan perbukitan dan sebagian mengalami luka akibat kekerasan di Myanmar sehingga mereka mengalami luka potong lebih dari satu," jelasnya dalam wawancara di pusat kesehatan kamp pengungsi Leda, Teknaf.

Skala persoalan kesehatan itu terlihat jelas dari jumlah pasien yang mengantre untuk mendapatkan perawatan. Rata-rata pusat kesehatan IOM yang dijalankan oleh hanya 33 staf, mulai dari tingkat satpam hingga dokter, tersebut menangani 400-500 pasien setiap hari.

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X