Tutup Masjid Al-Aqsa, Israel Dituduh Menghukum Warga Arab di Jerusalem - Kompas.com

Tutup Masjid Al-Aqsa, Israel Dituduh Menghukum Warga Arab di Jerusalem

Kompas.com - 15/07/2017, 18:26 WIB
Tiga pelaku penembakan ditembak mati di halaman Masjid Al-Aqsa, Jumat (14/7/2017).  REUTERS/ABIR SULTAN Tiga pelaku penembakan ditembak mati di halaman Masjid Al-Aqsa, Jumat (14/7/2017).

JERUSALEM, KOMPAS.com - Pasukan keamanan menutup sebagian wilayah di Kota Tua Yerusalem, Sabtu (15/7/2017), di mana sebuah situs suci Haram al-Sharif berada.

Penutupan dan pengamanan ekstra ketat diberlakukan setelah aksi penembakan yang menewaskan dua polisi oleh tiga orang Arab di dekat komplek Masjid Al-Aqsa, Jumat kemarin. 

Seperti yang telah diberitakan, ketiga pelaku serangan pun akhirnya ditembak mati di pekarangan masjid tersebut.

Selanjutnya, pihak berwenang Israel mengambil keputusan yang sangat tidak biasa untuk menutup kompleks masjid Al-Aqsa untuk shalat Jumat.

Hal itulah yang memicu kemarahan dari umat Islam di sana. Kemarahan dan protes memuncak dengan ditangkapnya Mufti Agung Masjid setempat, Muhammad Ahmad Hussein. 

Baca: 2 Polisi Ditembak Mati, Israel Tutup Masjid Al-Aqsa untuk Shalat Jumat

Ahmad Hussein berada di antara massa di halaman komplek suci itu, ketika otoritas Israel membawanya ke kantor polisi.

Sebelum ditangkap Hussein sempat berbicara kepada wartawan, dan mempertanyakan alasan penutupan masjid untuk ibadah shalat Jumat.

Baca: Protes Penutupan Masjid Al-Aqsa, Ulama Jerusalem Ditangkap

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memberi isyarat bahwa lokasi itu tetap ditutup sampai setidaknya hari Minggu, saat keamanan dinilai membaik.

Dia juga berbicara tentang peningkatan keamanan di pintu masuk ke tempat suci saat dibuka kembali.  

Pada hari Sabtu ini, akses terbatas diterapkan di Gerbang Damaskus -pintu masuk utama yang digunakan oleh orang-orang Palestina ke Kota Tua Jerusalem. Hanya penduduk dengan identifikasi diizinkan untuk lewat.

Sekitar 20 orang Palestina menunggu di balik penghalang polisi di dekat Gerbang Damaskus untuk melihat apakah mereka bisa melintas.

"Ini bukan keamanan, ini hukuman," kata Bader Jweihan, seorang akuntan berusia 53 tahun untuk sebuah perusahaan bus yang sedang mencoba untuk mulai bekerja, namun ditolak masuk.

"Mereka ingin menghukum warga Arab di Jerusalem," cetusnya seperti dikutip AFP.

Musa Abdelmenam Qussam (73), seorang kakek dengan penglihatan yang buruk, dibantu oleh salah satu cucunya berjalan dengan tongkat. Dia berusaha masuk melalui penghalang polisi.

Pemilik toko buku grosir di Kota Tua itu mengaku biasanya dia shalat di Al-Aqsa setiap hari.

"Masjid ini tidak hanya untuk umat Islam. Wisatawan datang," kata dia setelah ditolak masuk.

"Kota ini untuk seluruh dunia, pasti terbuka," tegas dia lagi.

Baca: Penembakan di Masjid Al-Aqsa, Abbas dan Netanyahu Bicara di Telepon

Ketiga penyerang terbunuh di lokasi yang oleh orang Muslim disebut sebagai Haram al-Sharif dan oleh warga Yahudi dinamai Bukit Kuil.

Tempat itu menjadi lokasi bentrokan reguler antara warga Palestina dan polisi Israel, namun tembakan senjata api jarang terjadi di sana.

Situs ini mencakup masjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock atau Kubah Shakhrah.

Dome of the Rock jika diartikan secara harfiah adalah "Kubah Batu".

Bangunan itu adalah tempat suci umat Yahudi dan Islam, serta marka tanah utama yang terletak di tengah-tengah di dalam tembok kompleks Haram al-Sharif.

Kompleks ini berada dalam tembok Kota Tua Jerusalem, sebelah timur.

EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X