Tes Keperawanan Tak Dipercayai Suami, Perempuan Ini Bunuh Diri - Kompas.com

Tes Keperawanan Tak Dipercayai Suami, Perempuan Ini Bunuh Diri

Kompas.com - 14/07/2017, 18:26 WIB
Rajabbi Khurshed (18) bunuh diri setelah hasil tes keperawanan yang dijalaninya tak dipercayai sang suami.Mirror Rajabbi Khurshed (18) bunuh diri setelah hasil tes keperawanan yang dijalaninya tak dipercayai sang suami.

DUSHANBE, KOMPAS.com - Seorang pria di Tajikistan didakwa telah menjadi penyebab sang istri bunuh diri setelah dia memaksa istrinya berulang kali melakukan tes keperawanan.

Namun, berulang kali pula sang suami tak memercayai hasil tes keperawanan itu dan malah menginginkan istri kedua.

Akibatnya, Rajabbi Kurshed (18) menenggak cuka dalam dosis mematikan 40 hari setelah dia menikah dengan Zafar Pirov (24).

Keluarga Rajabbi mengatakan, Pirov menginginkan istri kedua setelah dia menolak memercayai bahwa istrinya masih perawan setelah melalui sejumlah tes.

Baca: Usulkan Tes Keperawanan untuk Calon Mahasiswi, Anggota DPR Mesir Digugat

Meski sebelum menikah Rajabbi sudah lolos tes keperawanan yang diwajibkan pemerintah Tajikistan, Pirov mengaku dia meminta istrinya itu melakukan dua kali tes lagi.

Hasil kedua tes itu sama, yaitu Rajabbi memang masih perawan. Meski demikian Pirov tak memercayai hasil tes itu.

Keluarga Rajabbi, yang merancang pernikahan ini, kepada Radio Free Europe mengatakan, sang putri menjelang kematiannya mengatakan dia dipaksa memenuhi keinginan suaminya yang mencari istri kedua.

Namun, Pirov yang terancam hukuman penjara delapan tahun jika terbukti menjadi penyebab kematian istrinya mengatakan Rajabbi sudah mengizinkan dia untuk menikah lagi.

"Istri saya memberi pernyataan tertulis bahwa dia mengizinkan saya mencari istri kedua karena dia tak perawan saat kami menikah," kata Pirov.

Ibu kandung Rajabbi Khurshed, Fazila Mirzoeva mengatakan, putrinya adalah korban kekerasan dan dia tak pernah memiliki kekasih atau berhubungan seks dengan seseorang.

Fazila menambahkan, Rajabbi juga terpaksa keluar dari sekolah demi membantu merawat dua adiknya yang memiliki kebutuhan khusus.

Fazila, yang berasal dari desa Chorbogh, kini meminta Presiden Tajikistan Emomali Rahmon untuk menolong.

Tes keperawanan sebelum pernikahan adalah hal lazim di Tajikistan di mana seks di luar nikah tak diterima secara sosial.

Sejak 2015, pemerintah Tajikistan mewajibkan pasangan yang akan menikah untuk menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mencegah pernikahan antar-kerabat.

Baca: Tes Keperawanan yang Bikin Heboh di Afganistan

 

EditorErvan Hardoko
SumberMirror
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM