Sejumlah Cara Mengalahkan Ekstremisme dan Islamofobia - Kompas.com

Sejumlah Cara Mengalahkan Ekstremisme dan Islamofobia

Kompas.com - 13/07/2017, 11:16 WIB
Anak-anak ikut dalam demo menentang hukum syariah yang digelar di Perth, April 2015. 
ABC News Anak-anak ikut dalam demo menentang hukum syariah yang digelar di Perth, April 2015.

MELBOURNE, KOMPAS.com - Mehdi Hasan, wartawan kelahiran Inggris yang bekerja pada stasiun televisi Al Jazeera, untuk pertama kalinya mengunjungi Australia.

Mehdi yang sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan jurnalistik mendapat undangan dari Crescent Institute untuk berbicara tentang cara mengalahkan ekstrimisme dan islamofobia di Sydney, Kamis (13/07/2017) ini setelah di Melbourne, Selasa (11/07/2017) malam.

Tanpa disengaja, ia datang ke Australia beberapa hari setelah keluarnya laporan mengenai penyerangan yang bermotifkan islamopfobia di Australia.

Dalam laporan tersebut disebutkan, 80 persen korban dari kasus penyerangan tersebut adalah wanita Muslim berkerudung atau anak-anak.

Ditemukan pula adanya keterkaitan antara serangan terhadap Muslim di Australia yang meningkat, saat media meliput kejadian terkait terorisme.

Baca: Ekstremisme dan Intoleransi Meningkat di Eropa

"Kita lupa bahwa korban terbanyak dari aksi teror yang dilakukan atas nama Islam adalah Muslim itu sendiri," ujar Mehdi saat membuka pemaparannya di Melbourne Convention and Exhibition Centre, di kawasan Southbank, Melbourne.

Mehdi mencontohkan salah satu korban meninggal dari serangan kelompo Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) adalah anak perempuan asal Melbourne, Zynab Al Harbiya (12) pada akhir Mei 2017.

Saat itu ia sedang berlibur ke Baghdad, Irak dan hendak membeli es krim untuk berbuka puasa ke sebuah tempat yang kemudian menjadi target serangan ISIS.

Mehdi menjelaskan kebanyakan warga Australia, dengan mengambil hasil laporan dari Australian National University (ANU), yakni hampir 49 persen khawatir jika mereka atau keluarganya akan menjadi korban serangan teroris.

Padahal menurut data yang didapatkan oleh Mehdi, aksi teror di Australia menewaskan lima orang dalam dua puluh tahun terakhir.

Baca: Cara Kaum Perempuan Kota Lismore Atasi Islamophobia

"Lima terdengar banyak, tapi jika melihat jumlah tersebut dalam konteks, seperti yang dikatakan Profesor Greg Austin, pakar keamanan internasional dari University of New South Wales, Oktober lalu, lebih banyak warga Australia yang meninggal di tangan polisi dalam 10 tahun atau kekerasan rumah tangga dalam dua tahun terakhir, dibanding korban aksi teror di Australia," tegas Mehdi yang mempertanyakan mengapa harus terlalu ketakutan akan serangan teror di dalam negeri.

Menurutnya, ketakutan yang berlebihan inilah yang menjadi tujuan dari kelompok-kelompok teroris, seperti mereka yang menamakan diri ISIS itu.

"Tujuan mereka adalah untuk menebarkan rasa ketakutan, kecemasan, dan perpecahan," kata pria kelahiran 1976 ini.

"Seperti yang pernah disebutkan oleh Nicolas Henin, yang pernah disekap kelompok ISIS, pandangan kelompok ini adalah bahwa umat Muslim tidak dapat hidup berdampingan dengan orang lain.”

Baca: Sadiq Khan, Mengalahkan Isu Sektarian

“Setiap harinya mereka mencari bukti-bukti ini sebagai alasan untuk melakukan serangan. Dan orang-orang yang membenci Islam ini menjadi alasan kuat mereka," tambah Mehdi.

"Aksi teror yang mengatasnamakan Islam dan politisi yang anti Islam sama-sama memiliki satu tujuan, yakni ingin membuat Anda takut, cemas, benci, dan marah."

Karenanya, menurut Mehdi, warga dunia sebaiknya tidak takut, tidak menjadi frustasi. Mehdi menganggap Australia memiliki potensi menjadi panutan untuk mencari solusi ini.

"Australia bisa menjadi contoh bagi negara-negara barat, untuk urusan imigrasi dan integrasi, terlepas dari kegagalan, yang menurut Human Rights Watch, karena tidak dapat memenuhi standar pencari suaka," ujar Mehdi.

"Tetapi integrasi bisa berjalan di Australia ... di saat pemimpin konservatif dari Inggris hingga Perancis dan Jerman menyatakan multikultur sudah tidak jaman lagi atau bahkan mati, pemimpin konservatif di Australia layak dapat pujian karena menyatakan Australia sebagai, 'masyarakat multikultur paling sukses di dunia'."

Baca: Pertikaian Lukai Nurani

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM