Mungkinkah Arab Saudi dan Israel Jalin Kerjasama Ekonomi? - Kompas.com

Mungkinkah Arab Saudi dan Israel Jalin Kerjasama Ekonomi?

Kompas.com - 20/06/2017, 12:59 WIB
Wikipedia Peta Timur Tengah.

TEL AVIV, KOMPAS.com - Pemerintah Arab Saudi dan Israel dikabarkan tengah melakukan perundingan untuk menjalin kerja sama ekonomi.

Demikian dikabarkan harian terbitan Inggris, The Times, Sabtu (17/6/2017), mengutip sejumlah sumber pemerintah Saudi dan Amerika Serikat.

Sejumlah sumber itu mengatakan, bentuk kerja sama awal kedua negara yang sama-sama memusuhi Iran itu akan muncul dalam skala kecil.

Salah satu bentuk kerja sama itu adalah mengizinkan sejumlah bisnis Israel beroperasi di kawasan Teluk dan mengizinkan maskapai penerbangan Israel, El Al, terbang di wilayah udara Saudi.

Baca: Pertemuan Arab Saudi-Israel Kembali Terjadi

Namun, sumber lain yang juga dikutip The Times menyebutkan, bahwa kabar upaya meningkatkan hubungan Arab Saudi dan Israel tak lebih dari isapan jempol semata.

Harapan itu adalah bagian dari upaya Gedung Putih, dalam hal ini janji Presiden Donald Trump untuk menciptakan kesepakatan damai total di Timur Tengah.

Laporan ini juga menyebut bahwa kabar membaiknya hubungan Arab Saudi dan Israel ini juga menimbulkan masalah tersendiri dalam pemerintahan Trump.

Jared Kushne, menantu sekaligus penasihat Trump, memiliki hubungan yang semakin dekat dengan Mohammed bin Salman, wakil putra mahkota Arab Saudi.

Keduanya bahkan dikabarkan telah mendiskusikan perbaikan hubungan antara Arab Saudi dan Israel sebagai langkah menciptakan perdamaian Israel-Palestina.

Sebaliknya, utusan Presiden Trump untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt justru lebih menginginkan pendekatan tradisional untuk melanjutkan proses damai Timur Tengah.

Masih menurut laporan ini, Palestina menentang ide tersebut karena khawatir membaiknya hubungan Arab Saudi dan Israel justru semakin membuat harapan terbentuknya negara Palestina merdeka semakin jauh.

Sejumlah laporan  menyebut, prospek membaiknya hubungan Israel dan Arab Saudi berhubungan dengan keputusan negara-negara Teluk mengisolasi Qatar karena dinilai terlalu mendukung Hamas.

Pada Mei lalu, harian The Wall Street Journal mengabarkan, negara-negara Teluk mengajukan proposal normalisasi hubungan dengan Israel.

Syaratnya, PM Benyamin Netanyahu membuat beberapa langkah positif terhadap Palestina, misalnya membekukan pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan melonggarkan blokade terhadap Jalur Gaza.

Sejumlah sumber Israel justru skeptis dengan kabar tersebut. Para sumber itu mengatakan, sangat kecil kemungkinan saat ini Riyadh terbuka tentang perbaikan hubungan dengan Israel.

Memang para pejabat senior Israel mulai dari PM Benyamin Netanyahu hingga Menteri Intelijen  Israel Katz berulang kali menyiratkan kemungkinan kerja sama Arab Saudi dan Israel.

Kerja sama yang dimaksud terutama adalah dalam hal masalah keamanan terkait musuh bersama kedua negara yaitu Iran dan radikalisme Islam.

Namun, sejauh ini tak ada langkah konkrit untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Baca: Arab Saudi-Israel Bertemu secara Rahasia

Joshua Teitelbaum, seorang pakar Arab Saudi dari Univesitas Bar-Ilan menyebut, kabar terkait normalisasi hubungan Saudi dan Israel masih sangat prematur.

"Israel memiliki kepentingan untuk memunculkan hal semacam ini. Namun, saya kira hal tersebut masih sangat prematur," ujar Teitelbaum.

Teitelbaum menambahkan, kecil kemungkinan Israel akan memenuhi keinginan Arab Saudi terkait masalah Palestina demi normalisasi hubungan.

"Saya tak melihat bisnis Israel bisa dibuka di Teluk kecuali Saudi mendapatkan sesuatu misalnya penghentian pembangunan permukiman Yahudi," kata Teitelbaum.

Dia menambahkan, Saudi akan meminta konsesi yang sangat besar dan hal itu akan menyulitkan Netanyahu untuk mewujudkannya.

EditorErvan Hardoko
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM