Dakwah Plus Tembang Jawa Ramaikan Ramadhan di KBRI Paramaribo - Kompas.com

Dakwah Plus Tembang Jawa Ramaikan Ramadhan di KBRI Paramaribo

Kompas.com - 14/06/2017, 15:25 WIB
KBRI Paramaribo Warga Indonesia di Paramaribo, Suriname mendengarkan dakwah yang dibawakan Ustaz Ismail Hasan asal Madiun, Jawa Timur.

PARAMARIBO, KOMPAS.com - Ada yang berbeda dan unik dalam bulan suci Ramadhan bagi umat Muslim Indonesia dan Suriname yang berada di kota Paramaribo.

“Kegiatan Ramadhan kali ini terasa unik bagi masyarakat Suriname dengan keberadaan Dai yang menyampaikan syiar agama melalui tembang-tembang macapat,” kata Duta Besar RI untuk Suriname, Dominicus Supratikto, lewat siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (14/6/2017).

Apa itu macapat? Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa yang setiap baitnya mempunyai baris kalimat yang disebut gatra.

Baca: Tiap Jumat Selama Ramadhan, Gereja Ini Gelar Buka Puasa Bersama

Setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.

Pada bulan Ramadhan 1438 Hijriah ini KBRI Paramaribo bekerjasama dengan yayasan Dompet Dhuafa dan Stichting Nurusshobri Suriname, mendatangkan seorang ustaz dari Indonesia untuk kegiatan Safari Ramadhan berupa kunjungan ke masjid-masjid di Suriname.

Selain itu, sang ustaz juga akan mengisi acara buka bersama dan tarawih berjamaah di KBRI Paramaribo yang kini diselenggarakan setiap pekan selama bulan Ramadhan.

Frekuensi sholat tarawih berjamaah ini meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya sebanyak dua kali selama Ramadhan.

Ini adalah tahun kedua KBRI Paramaribo mengundang ustaz dari Indonesia dan kali ini yang dihadirkan adalah Ustaz Ismail Hasan asal Madiun, Jawa Timur.

Selain membawa misi Dompet Dhuafa melalui program Dai Ambassador, Ustaz Ismail juga mewakili kaum Nadhliyin sebagai utusan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU).

Safari Ramadhan ke masjid-masjid kali ini memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat Suriname.

Dalam setiap kesempatan ceramah, Ustaz Ismail mengenakan busana yang merepresentasikan budaya Indonesia seperti baju takwa atau koko dan sarung lengkap dengan peci, bahkan dalam beberapa kesempatan mengenakan blangkon.

Gaya kotbah Ustaz Ismail yang santai dengan bahasa Jawa ngoko diselingi guyon-guyon membuat suasana ceramah segar dan cair.

Sehingga, pesan Ramadhan mudah dicerna para jamaah, baik dari masyarakat Indonesia yang tinggal di Suriname maupun para jamaah setempat serta wakil dari pengurus masjid-masjid di Suriname.

Mereka datang ke ceramah ini tak hanya dari komunitas masyarakat Jawa Suriname namun juga dari etnis Hindustani dan Creole (kulit hitam).

Yang lebih menarik, dalam ceramah-ceramah yang disampaikan Ustaz Ismail juga disisipkan tembang-tembang seperti macapat mijil dan pepiling.

Baca: Potret Kebersamaan WNI Jalani Puasa Ramadhan 18 Jam di Italia

Tembang-tembang tersebut memiliki nilai-nilai filosofis yang dalam sebagai pesan untuk melakukan syiar, sebagaimana yang dilakukan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa pada masa lampau.

Para jamaah sangat antusias menyimak ceramah dan menikmati tembang-tembang yang dilantunkan Ustaz Ismail.

“Dakwah dengan unsur budaya dimaksud juga sesuai dengan misi kegiatan Safari Ramadhan yang diselenggarakan KBRI Paramaribo, antara lain sebagai sarana untuk lebih mendekatkan masyarakat Suriname dengan Indonesia dan untuk melestarikan budaya Indonesia khususnya Jawa yang kini memudar di Suriname," papar Dubes Supratikto.  

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorErvan Hardoko
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM