Tiap Jumat Selama Ramadhan, Gereja Ini Gelar Buka Puasa Bersama - Kompas.com

Tiap Jumat Selama Ramadhan, Gereja Ini Gelar Buka Puasa Bersama

Kompas.com - 13/06/2017, 06:43 WIB
ABC News/Briana Shepherd Beginilah suasana buka puasa bersama yang digelar setiap Jumat sepanjang bulan Ramadhan di Gereja St Paul, Perth, Australia.

PERTH, KOMPAS.com - Umat sebuah gereja Anglikan dan komunitas Muslim kota Perth menggelar acara buka puasa bersama setiap Jum'at selama Ramadhan tahun ini.

Tempat berbuka puasa yang digunakan adalah Gereja St Paul di Beaconsfield, sebelah selatan Kota Perth.

Gereja tersebut telah membuka pintu bagi umat Islam setempat sebagai tempat sholat Jumat selama hampir enam tahun.

Baca: Warga Lintas Agama di Denpasar Buka Puasa Bersama dengan Cara "Megibung"

Tahun ini, gereja tersebut menyelenggarakan buka puasa bersama di bulan suci umat Islam tersebut.

Kegiatan ini nampaknya merupakan yang pertama kalinya di Australia ketika umat Muslim dan Kristen menghabiskan waktu di bulan suci secara berdampingan.

Kedua pemimpin agama tersebut mengatakan, meski sejarah sering menggambarkan dua agama yang mereka anut tersebut kerap saling berperang, mereka menemukan kesamaan dan juga belajar untuk memahami perbedaan mereka.

"Saya pikir cara terbaik untuk membuat kemajuan ketika banyak terjadi kesalahpahaman adalah hanya dengan berbagi roti, berbagi makanan," kata Imam Faizel.

"Karena cara termudah untuk mengambil hati manusia - atau hati wanita dalam hal ini - adalah melalui perut mereka," tambah dia.

"Di dalam diri setiap orang pasti ada sesuatu di mana kita saling berbagi kesamaan, kita semua merupakan bagian dari satu kisah yang sama,” kata Pendeta Humphries.

"Semua kitab-kitab kuno - wahyu Kristus, secara keseluruhan - menunjuk ke arah kesatuan manusia," ujar sang pendeta.

"Ini adalah cerita yang sama sekali berbeda dengan paham ‘kita’ dan ‘mereka’ yang telah meresap ke dunia sampai sekarang," Humphries menegaskan.

Anggota kedua komunitas tersebut telah merangkul pemahaman ini.

"Saya adalah penggemar berat upaya-upaya yang dilakukan Pastor Peter dan saya menyukai kenyataan bahwa dia dan Faizel memiliki persahabatan yang indah," kata Aisha Novakovich, seorang pengacara dan seorang Muslim.

"Saya pikir mereka menunjukkan kepada kita semua, dan seluruh dunia, apa sesungguhnya yang dapat dicapai dua orang ketika mereka memiliki kepemimpinan dan visi," tambah dia.

Pujian juga datang dari salah seorang umat gereja St Paul, Kim Kemp.

"Pada saat ini, dunia berusaha memisahkan semua orang ketimbang berusaha menyatukan mereka - dan ini adalah sebuah tanda kecil kalau sebenarnya upaya saling menyatukan itu berhasil," kata Kemp.

"Kita sejatinya adalah manusia, tidak peduli agama, pemujaan atau kepercayaan apa pun yang anda anut dan dari manapun Anda berasal dan apa yang dapat kami lakukan," papar Nelson Gardiner, yang sudah menjadi jemaat gereja tersebut bersama istrinya sejak 1969.

Imam Faizel memiliki rencana untuk membangun sebuah masjid di sebelah gereja St Paul, sebuah ruang yang ia lihat lebih sebagai tempat bagi individu yang berpikiran sama berkumpul dan belajar, bukan sekadar tempat di mana umat Islam beribadah.

Baca: Presiden Erdogan Buka Puasa Bersama Selebriti Transjender Turki

"Sebuah ruang yang didedikasikan untuk merayakan kekayaan dan nikmat hidup berupa keberagaman yaitu masyarakat kita ... menggunakan baik agama Kristen dan Islam sebagai platform," katanya.

"Ini telah menjadi hubungan yang berkembang tidak hanya antara individu tapi juga antara masyarakat," tambah Faizel.

Pendeta Humphries segera meninggalkan gereja St. Paul sehingga muncul keraguan tentang sosok yang akan memimpin gereja itu. Namun, tak sedikit yang optimistis semua yang dirintis Humphries akan berlanjut.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorErvan Hardoko
Komentar

Close Ads X