Mengenang Rehman Rashid, Penyokong Kebebasan Pers Malaysia - Kompas.com

Mengenang Rehman Rashid, Penyokong Kebebasan Pers Malaysia

Karim Raslan
Kompas.com - 06/06/2017, 21:34 WIB
Jahabar Sadiq Rehman Rashid di rumahnya di Kuala Kubu Baru, Selangor.

 

REHMAN Rashid, salah satu penulis, pencerita, petualang, dan naturalis terkenal Malaysia telah berpulang untuk selamanya.

Dia meninggal dunia di usianya yang ke-61 tahun akibat serangan jantung yang dideritanya sejak di awal tahun ini.

Bagi saya, Rehman lebih dari sekadar seorang jurnalis. Dia adalah seorang pencerita sekaligus penyokong kebebasan pers.

Dia seorang yang bersosok "brutal" dan tak akan pernah mundur, bahkan ketika dia menceritakan kegagalannya sendiri.

Datang dari negara yang budayanya sudah sangat kental, sangat Melayu, Muslim, dan aristokratik, sejak kemerdekaan hampir 60 tahun yang lalu, pendekatan menulis Rehman yang multi-ras, multi-agama, dan selalu dari bawah ke atas, selalu menghadirkan gaya penulisan jurnalistik yang menyegarkan. Gaya menulis Rehman selalu berbeda.

Lahir dari hasil pernikahan campuran (ayahnya Muslim India dan ibunya campuran Asia Eropa), Rehman tampaknya telah memasuki kalangan elit Melayu-Muslim saat bergabung dengan sekolah bergengsi, Malaysian College Kuala Kangsar (MCKK), dan kemudian meraih gelar sarjananya dalam bidang Biologi Laut di Inggris.

Namun, setelah bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan akademisi, pada 1981dia akhirnya menemukan panggilan jiwa yang sesungguhnya yakni menjadi penyiar dan kemudian asisten redaktur di New Straits Times (NST).

NST saat itu merupakan media Malaysia berbahasa Inggris yang terkemuka, koran yang sangat menarik dan menantang para penulis andal.

Meski begitu, dia tidak menyukai pekerjaan di belakang meja. Rehman memiliki banyak kepribadian dan harga diri yang tinggi untuk meredam kekuasaan dan pengaruh kuat Kuala Lumpur.

Karena itu, dia merasa paling bahagia berada di lapangan, dan kolomnya, "Scorpion Tales" mencerminkan hal itu.

Menolak narasi kalangan elit, dia lebih menyukai berada di antara orang-orang Malaysia biasa, duduk di warung kopi Tionghoa atau warung Malaysia.

Itulah pertama kalinya saya mengenal dan bertemu dengannya ketika waktu itu, saya cukup beruntung mendapatkan kesempatan magang di NST pada 1982.

Awal tahun 1980-an adalah waktu yang menggairahkan bagi Malaysia. Dr Mahathir Mohamad baru saja memulai masa jabatannya dan negara ini merasa seperti muda kembali serta penuh harapan. Hanya saja, situasi itu tidak berlangsung lama.

Persaingan di dalam partai yang berkuasa, UMNO, memicu ketegangan politik yang lebih luas dan kontrol yang ketat terhadap kebebasan sipil tidak dapat dihindarkan.

Wartawan koran seperti Rehman harus melakukan pelanggaran hukum di bawah undang-undang yang kejam seperti Undang-Undang Pencetakan dan Publikasi 1984, aturan yang dipaksakan dan memberikan kewenangan pada pemerintah Malaysia untuk membredel surat kabar yang “menentang” pemerintah.

Rehman, memang sering melanggar apa yang telah ditetapkan pihak berwenang. Saat terjadinya Operasi Lalang yang terkenal di Malaysia pada 1987, ketika para tokoh politik dan aktivis politik ditangkapi, dia pun bereaksi dan menuliskan kritikan keras dan tajam terhadap pihak berwenang.

Sebuah sikap yang independen dari wartawan surat kabar yang “tampaknya” pro-pemerintah, dia pun digiring untuk diinterogasi polisi. Pengalamannya ini dia kisahkan dalam memoirnya yang diberi judul, “A Malaysian Journey”.

Kritiknya yang paling keras ada dalam tuturannya tentang bagaimana dia membiarkan dirinya diintimidasi oleh mantan Direktur Intelijen yang paling ditakuti, yang kemudian menjadi Inspektur Jenderal Polisi, Tan Sri Rahim Rahim Noor.

Seperti yang dituliskan Rehman, “Saya ingin melepaskannya. Saya takut. Dan dia tahu itu, dan percaya itu benar, dan saya seharusnya seperti itu. Saya rasa mungkin saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri atas ketakutan itu. Semoga saya tidak pernah merasa takut lagi.”

Pengalaman itu mungkin yang memengaruhi keputusannya untuk meninggalkan NST dan negerinya, Malaysia, kemudian bergabung dengan “Asiaweek” di Hong Kong dan majalah “Bermuda Business”.

Bahkan, meskipun dia kembali untuk menyelesaikan bukunya “A Malaysian Journey” dan sempat juga kembali ke NST, dia tidak pernah menonjol lagi dalam tulisan nasional.

Namun, dengan segala kekurangannya, Rehman tetap menjadi teladan yang luar biasa bagi penulis-penulis muda di Malaysia.

Ia adalah pendukung yang bersemangat dari aliran pentingnya karya jurnalistik berdasarkan kisah dari tangan pertama, dan melepaskan banyak suara, seperti di antaranya, Bernice Chauly, Marina Mahathir, dan Zainah Anwar yang telah menjadi terkenal dengan caranya sendiri.

Kehidupan Rehman dan buku-bukunya menggambarkan tidak seimbangnya perjuangan individu melawan kekuatan besar sebuah negara, permasalahan yang umum di Asia Tenggara.

Tentunya, kawasan ini telah melihat beberapa penulis berani dan brilian yang memilih diam, diasingkan atau bahkan lebih buruk lagi, dipaksa untuk berdiri di antara orang-orang yang berpengaruh dan makmur.

Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis dari Indonesia, Joe Burgos Jr dari Filipina, Doan Viet Hoat dari Vietnam, Aung Pwint dari Myanmar, dan Thongchai Winichakul dari Thailand, hanyalah beberapa dari mereka yang telah menerima getahnya saat mengatakan suatu kebenaran kepada para penguasa.

Atas nama keamanan nasional, ortodoksi agama dan kemurnian etnis menjadi banyak dikorbankan.

Baca juga: Jokowi: Indonesia Tidak Akan Bisa Bangkit Tanpa Peran Pers

Pelemahan dari pilar keempat demokrasi ini justru membuat kalangan elit menjadi lebih kuat.
Kita juga melihat banyak hilangnya berbagai cerita nasional, suara-suara yang inkonvensional, seperti suara milik Rehman yang juga ikut terhapus.

Kehidupan Rehman diwarnai oleh momen-momen kecemerlangannya, namun juga kegelapan yang mengerikan.

Tetapi seperti yang saya akhirnya pahami, dia telah menemukan kedamaian dan kepuasan sendiri yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk Klang Valey, timur laut Kuala Kubu Baru, Selangor, kota yang dia puji-puji dalam buku terakhirnya, “Small Town”.

Rehman adalah seseorang yang brilian dan juga tidak terduga, seorang pria yang berani berucap kepada para editor dan para politisi untuk pergi saja menghilangkan diri, dan kemudian menceritakan kepada kita, kisahnya dengan caranya sendiri.
Dan sekarang, terserah pada kita apakah ingin meneruskan perjuangannya itu atau tidak.

EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X