Inilah Pihak-pihak yang Terlibat Konflik Rumit di Suriah - Kompas.com

Inilah Pihak-pihak yang Terlibat Konflik Rumit di Suriah

Kompas.com - 20/04/2017, 16:43 WIB
AFP PHOTO / OMAR HAJ KADOUR Kondisi sebuah kamar rumah sakit yang hancur di Khan Sheikhun, kota yang dikuasai kelompok pemberontak di Provinsi Idlib, Suriah barat laut, Selasa (4/4/2017), menyusul serangan yang diduga mengandung gas beracun. Sedikitnya 72 orang tewas, termasuk 20 anak-anak akibat serangan senjata kimia tersebut.

KOMPAS.com - Krisis politik dan keamanan yang terjadi di Suriah, tak hanya melibatkan kubu Pemerintah Presiden Bashar al Asaad melawan kelompok pemberontak yang hendak menggulingkannya.

Lebih dari itu, ada sejumlah kelompok, bahkan negara yang terkait dalam krisis berkepanjangan yang terjadi di negeri itu.

Awalnya, militer Suriah yang resminya bernama Syrian Arab Army (SAA) mengalami kekalahan besar dari kelompok anti-Presiden Bashar al-Assad yang tergabung dalam Free Syrian Army.

SAA yang adalah gabungan pasukan pertahanan nasional Suriah dengan dukungan milisi bersenjata pro-Assad mengalami kekalahan tersebut pada tahun 2011.

Kelompok Free Syrian Army lantas mengklaim diri sebagai sayap moderat, yang muncul dari aksi protes menentang rezim Assad di tahun 2011.

Bersama milisi non-jihadis, kelompok pemberontak ini terus berusaha menumbangkan Presiden Assad dan menuntut digelarnya pemilu demokratis.

Kelompok tersebut didukung Amerika Serikat dan Turki. Namun, kekuatan FSA kian melemah, akibat sejumlah anggota milisi pendukungnya memilih bergabung dengan kelompok teroris.

Lalu, Kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) yang memanfaatkan kekacauan di Suriah dan vakum kekuasaan di Irak, pun menjadi bagian dalam perang di Suriah.

Teroris ISIS pada tahun 2014 merebut wilayah luas di Suriah dan Irak.

ISIS berusaha mendirikan kekalifahan, namun nama kelompok ini tercoreng akibat aksi genosida, pembunuhan sandera, serta penyiksaan brutal.

Kemudian ada milisi teroris Front al-Nusra yang sempat berafiliasi ke Al Qaeda. Ini merupakan kelompok jihadis yang sudah lama bergerak di Suriah.

Baca: Al Nusra dan Al Qaeda Bercerai, Ini Reaksi Gedung Putih

Kelompok ini tidak hanya memerangi rezim Assad, tapi juga terlibat perang dengan pemberontak yang disebut moderat.

Kelompok ini lalu bergabung dengan sejumlah grup milisi lainnya pada Januari 2017, nama kelompok ini pun diubah menjadi Tahrir al-Sham.

Selanjutnya, pasukan dari Moskwa terbukti menjadi aliansi kuat bagi Presiden Assad.

Pasukan darat Rusia resmi terlibat perang sejak tahun 2015. Bertahun-tahun sebelumnya, mereka menyuplai senjata bagi militer Suriah.

Komunitas internasional mengkritik banyaknya korban sipil dalam serangan udara yang didukung jet tempur Rusia.

Masih ada pula NATO yang terlibat dari awal dalam konflik di Suriah. NATO menentang Assad dan mendukung secara taktis pemberontak "moderat".

AS dan negara NATO lainnya mula-mula menolak mengirim pasukan darat.

Namun sejak 2014 koalisi yang dipimpin AS mulai melancarkan serangan udara ke target yang disebut kubu teroris, termasuk ISIS.

Selain itu ada Iran, yang terlibat dalam pusaran konflik dengan mendukung rezim Assad.

Konflik ini juga jadi perang proxy antara Iran dan Rusia di satu sisi, melawan Turki dan AS di sisi lainnya.

Teheran berusaha menjaga perimbangan kekuatan di kawasan, dan mendukung Damaskus dengan asistensi startegis, pelatihan militer, dan bahkan mengirim pasukan darat.

AS kini juga terlibat langsung dalam gejolak di Suriah. April 2017 untuk pertama kalinya militer AS menembakkan puluhan rudal Tomahawk ke pangkalan militer Suriah.

Baca: Balas Dendam Pakai 60 Rudal Tomahawk ke Suriah, Apa yang Disasar AS?

Serangan itu sebagai reaksi atas serangan senjata kimia ke kubu pemberontak yang menewaskan puluhan warga sipil.

Selain itu, hampir semua negara tetangga Suriah ikut terseret ke pusaran konflik.

Turki yang berbatasan langsung juga terimbas amat kuat. Berlatar belakang permusuhan politik antara rezim di Ankara dan rezim di Damaskus, Turki mendukung berbagai faksi militan anti Assad.

Perang Suriah sejatinya konflik yang amat rumit. Dalam perang besar ada perang kecil.

Misalnya antara pemberontak Kurdi Suriah melawan ISIS di utara dan barat Suriah. Atau juga antara etnis Kurdi di Turki melawan pemerintah di Ankara.

Etnis Kurdi di Turki, Suriah, dan Irak sejak lama menghendaki berdirinya negara berdaulat Kurdi.

Baca: PBB Desak Turki Selidiki Dugaan Pembunuhan 2.000 Orang di Wilayah Kurdi

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X