Kehabisan BBM, Pembangkit Listrik di Gaza Berhenti Beroperasi - Kompas.com

Kehabisan BBM, Pembangkit Listrik di Gaza Berhenti Beroperasi

Kompas.com - 20/04/2017, 10:29 WIB
Shutterstock Ilustrasi listrik

GAZA CITY, KOMPAS.com - Satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza berhenti bekerja setelah kehabisan bahan bakar.

Akibatnya, seluruh daerah kantong Palestina yang berpenduduk sekitar dua juta jiwa harus mengalami pemadaman listrik besar-besaran.

Penduduk di wilayah kekuasaan Hamas itu kini harus rela hanya menikmati listrik 2-4 jam sehari yang membuat sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat bekerja tak bisa beroperasi.

Selain itu, kegiatan sehari-hari warga yang membutuhkan pasokan listrik seperti memompa air, mencuci pakaian, mandi, memasak, dan mencuci piring, sulit dilakukan.

Baca: Melongok Suasana Pusat Perbelanjaan Pertama di Jalur Gaza

Dalam beberapa bulan terakhir, Hamas menggunakan dana sumbangan dari Qatar dan Turki untuk membeli solar, bahan bakar pembangkit listrik di Gaza.

Kini, Hamas menuding Otorita Palestina yang berkedudukan di Tepi Barat, menaikkan harga bahan bakar dalam bentuk pajak yang dinilai tak adil.

Dalam sbeuah jumpa pers pada awal pekan ini, wakil ketua otorita energi Gaza, Fathi al-Sheikh Khalil mengatakan, masalah ini berarti jadwal pengiriman bahan bakar belum dapat dipastikan.

Pengelola pembangkit listrik tak mampu membayar pajak bahan bakar yang dibebankan otorita Palestina ketika dana bantuan asing mulai mengering.

"Otorita Palestina mencoba untuk menyulut krisis energi listrik di Gaza," ujar Khalil.

Hamas menguasai Jalur Gaza dari tangan Fatah, partai yang menguasai Otorita Palestina pada Tepi Barat pada 2007.

Baca: Israel Impor Buah dan Sayur dari Jalur Gaza

Kondisi ini memicu Israel melakukan blokade laut dan darat terhadap Jalur Gaza yang membuat wilayah itu kesulitan mengimpor barang dan jasa serta mengatasi masalah energi listrik.

Sebelumnya, listrik di Jalur Gaza hanya menyala maksimal delapan jam sehari. Kementerian Kesehatan Jalur Gaza mengatakan, jika kondisi ini terus berlanjut akan membahayakan para pasien di rumah sakit.

Saat musim dingin tiba, warga Jalur Gaza harus membakar batu bara atau kayu di dalam rumah menggunakan alat pemanas lama.

Pada Januari lalu, krisis energi listrik memicu aksi unjuk rasa terhadap pemerintah Hamas, sebuah hal yang sangat jarang terjadi di Jalur Gaza.

Sebenarnya, pemerintah Israel sudah menyetujui pembangunan jaringan listrik bertegangan tinggi untuk mengoperasikan pusat desalinasi air laut.

Baca: Setelah 20 Tahun, Bioskop Hadir Kembali di Jalur Gaza

Selain itu, Israel juga merencanakan pembangunan jalur pipa gas untuk bahan bakar pembangkit listrik di Jalur Gaza.

Namun, kedua rencana itu belum terlaksana dan butuh waktu beberapa tahun untuk menyelesaikan pembangunannya.

Masalah energi listrik hanyalah satu dari sederet masalah yang dihadapi Hamas yang menguasai Jalur Gaza.

Masalah lain adalah 96 persen air yang dikonsumsi rakyat Jalur Gaza tidak sehat dan 46 persen warga Jalur Gaza berstatus pengangguran.


EditorErvan Hardoko
Komentar