Cerita Rahmah, Perempuan China Muslim Berjilbab di Beijing - Kompas.com

Cerita Rahmah, Perempuan China Muslim Berjilbab di Beijing

Kompas.com - 19/04/2017, 16:31 WIB
VIA BBC INDONESIA Rahmah yang memiliki nama asli Ye Qingfang, mulai pakai jilbab pada usia 20 tahun.

BEIJING, KOMPAS.com - Seorang perempuan Muslim di China, Rahmah, bercerita tentang pengalamannya yang diminta pergi ke konsultan kejiwaan, karena agamanya dan bersikukuh memakai jilbab.

Lahir dari keluarga Muslim di Provinsi Qinhai, Rahmah mengaku sempat mengalami diskriminasi karena memakai jilbab.

Namun kini dia terus berupaya agar perempuan Muslim di China berani mengangkat identitasnya.

Dalam percakapan dengan BBC, Rahmah mengatakan, "Saya akan tetap memakai jilbab dan tetap yakin pada agama saya. Saya perempuan China berjilbab."

Rahmah yang memiliki nama asli Ye Qingfang. "Rahmah, artinya anugerah," ujar dia.

Baca: Didiskriminasi karena Berjilbab, Guru Ini Dapat Kompensasi Rp 123 Juta

Saat ini terdapat sekitar 23 juta pemeluk Islam di China.

Meski di antara para pemeluk agama Islam mengenakan jilbab, namun kebiasan itu masih dipandang sebagai sesuatu yang tabu bagi sebagian warga China.

Rahmah mengaku mulai memakai jilbab saat berada di perguruan tinggi dan semakin menekuni Islam.

"Di perguruan tinggi saya putuskan untuk memakai jilbab," kata dia.

"Identitas Muslim membuat saya unik dan tidak biasa di China. Banyak orang yang salah mengerti dan berprasangka karena saya memakai jilbab," ujar Rahmah lagi.

Konsultasi kejiwaan

Saat menjalani ibadah, Rahman mengaku sempat ditanya dan diminta pergi ke psikolog.

"Pada awalnya, orang tak mengerti saya. Mereka menyuruh saya ke konsultan kejiwaan. Mereka bertanya apakah saya dimanipulasi oleh kelompok-kelompok setan atau terkait dengan itu."

Ia sempat mengajar Bahasa China di kota asalnya, Qinhai. Namun dia pindah ke Beijing karena tidak bisa mengenakan penutup kepala.

"Sekolah tak mau guru yang memakai jilbab. Mereka merasa saya akan menjadi pengaruh buruk."

Baca: Pengadilan UE: Larangan Berjilbab di Tempat Kerja Tak Diskriminatif

Akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Beijing pada 2012 dan membuka usaha busana Muslim.

Rahmah mengaku ingin mewakili perempuan China Muslim yang berani mengangkat identitasnya.

"Saya ingin menjadi wajah jilbab di China, mewakili perempuan Muslim."

"Saya berharap perempuan Muslim percaya diri untuk memakai jilbab, dan tetap tenang dan elegan di tempat-tempat kerja," tambahnya.

Baca: Saat Biarawati dan Perempuan Berjilbab Putih Duduk Bersimpuh

EditorGlori K. Wadrianto
Komentar
Terkini Lainnya

Close Ads X