Masa Sulit Kaum Miskin Pedesaan Filipina di Era Duterte - Kompas.com

Masa Sulit Kaum Miskin Pedesaan Filipina di Era Duterte

Karim Raslan
Kompas.com - 23/03/2017, 18:38 WIB
Dok Karim Raslan Saat ini, tebu lokal di Filipina tidak bisa bersaing dengan sirup jagung impor dan industri mulai mengurangi pekerjanya.

 

EFREN Cornessa adalah orang paling lembut yang akan pernah Anda temui selama hidup.
Lelaki 61 tahun yang selalu tersenyum dan tabah ini sedang menjalani proses penyembuhan dari sakitnya.

Penyakit tekanan darah tinggi yang dideritanya telah memaksa dia untuk tidak bekerja terlalu lama di bawah terik sinar matahari. Kini Efren hanya mampu bekerja menyapu jalanan Kota Talisay yang terletak di Pulau Negros, Filipina, setiap hari dari jam 4-6 pagi.

Talisay (dikenal dengan nama resmi “Talisay Negros Occidental”) merupakan bagian dari wilayah metropolitan Metro Bacolod.

Ketika saya bertemu Efren pertama kalinya pada November tahun lalu, dia masih menjalankan usaha warung yang terletak di depan rumahnya. Sekali dalam beberapa hari, dia pergi berbelanja stok barang-barang jualannya dari pasar grosir lokal.

Dia menceritakan dengan gembira kisah hidupnya sebagai buruh sambil menuntun kami mengitari jalanan kota di Bacolod.

Pulau Negros dikenal sebagai sentra gula. Pemandangan pulau diwarnai perkebunan tebu yang sangat luas. Pada musim panen, truk-truk besar melewati jalanan mengangkut hasil panen ke pabrik-pabrik.

Dok Karim Raslan Pada masa panen di Filipina, truk dengan muatan berlebihan membawa potongan tebu yang masih segar ke pabrik.
Reformasi lahan atau setidaknya kegagalan reformasi lahan telah menjadi karakter kehidupan di pinggiran kota Pulau Negros. Kepemilikan lahan yang luas masih mendominasi daerah luar kota ini.

Pada zaman dahulu, ratusan jika bukan ribuan buruh tani bekerja di sawah-sawah luas ini. Sebagian bekerja sebagai buruh tetap meski mayoritas hanya bekerja sementara dan dikenal sebagai “sacadas”. Namun, hari-hari kejayaan itu telah berlalu.

Tebu lokal tidak dapat bersaing dengan sirup jagung yang diimpor dari negara lain. Industri tebu juga telah mengurangi pekerjanya. Banyak dari pekerja tersebut menemui kesulitan untuk mendapat pekerjaan lain.


Setelah Duterte terpilih

Tim saya, rekan-rekan dari Ceritalah telah mengunjungi dan berbincang dengan Efren dan keluarganya sejak September tahun lalu, hanya 2 bulan setelah Rodrigo Duterte dilantik sebagai Presiden pada Juni 2016.

Efren, istrinya Evelyn dan keempat anaknya adalah pendukung Duterte. Mereka miskin, tidak mempunyai lahan namun pekerja keras. Efren juga mendukung “Perang terhadap Narkoba” yang diinisiasi Presiden Duterte.

Dok Karim Raslan Efren bersama dengan istrinya, Evelyn, membuka kios sari- sari di depan rumah mereka di Filipina. Kiosnya saat ini tutup karena kekurangan modal.
Dia mulai bekerja saat berumur 14 tahun dan menyiangi lahannya selama enam tahun dengan alat yang sederhana. Dia masih menyimpan satu dari alat tersebut di rumahnya sebagai kenang-kenangan atas kerja kerasnya selama bertahun-tahun sebagai buruh.

Ayah dan kakeknya bekerja pada lahan yang sama yang berjarak 30 menit dari kota.
Keluarganya telah hidup di lahan yang sama selama 4 generasi tanpa mengeluarkan uang sewa sepeserpun.

Pola kehidupan ini merupakan bagian dari hubungan yang rumit antara pekerja dan tuan mereka di daerah ujung Filipina yang mempunyai kemiripan dengan sistem feodal.

Meskipun demikian, anak-anak Efren mampu meraih kesuksesan melalui upaya mereka masing-masing. Anak perempuan pertamanya, Emy telah menikah dengan Neil, seorang insinyur di pabrik pengolahan tebu, dan mereka dianugerahi seorang anak perempuan.

Ramiel menjual makanan rumahan di sebuah restoran lokal, sementara Efren Junior kuliah Ilmu Komputer di Universitas Teknologi Filipina. Anak laki-laki Efren yang paling kecil, Janry, masih duduk di bangku SMA.

Page:
EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X