Kamis, 23 Maret 2017

Internasional

Selandia Baru Usir Seorang Diplomat AS

Senin, 20 Maret 2017 | 10:06 WIB
THINKSTOCK Kota Wellington di Selandia Baru.

WELLINGTON, KOMPAS.com - Seorang diplomat AS diusir dari Selandia Baru karena diduga terlibat dalam sebuah insiden kriminal serius yang menyebabkan dia terluka dan mengalami patah tulang hidung.

Diplomat yang tak disebutkan namanya itu diminta segera meninggalkan Selandia Baru setelah kedubes AS mempertahankan kekebalan diplomatiknya sehingga dia tak bisa diperiksa polisi.

Kepolisian Selandia Baru mengatakan, mereka merespon sebuah insiden tak jauh dari kota Wellington pada Minggu (12/3/2017) dini hari, tetapi tidak menjelaskan rincian insiden itu.

Kepolisian hanya mengatakan, diplomat AS tersebut sudah meninggalkan lokasi kejadian saat mereka tiba di tempat itu.

Sehari setelah insiden tersebut, Kemenlu Selandia Baru meminta kedubes AS melepaskan kekebalan diplomatik sang diplomat demi kelancaran investigasi.

Kemenlu Selandia Baru menegaskan, sudah menekankan bahwa semua warga asing termasuk para diplomat harus mematuhi hukum di neger itu.

Sehingga, kedubes harus melepaskan kekebalan diplomatik itu agar aparat penegak hukum bisa menjalankan tugasnya menyelidiki sebuah kasus kejahatan serius.

Soal kejahatan serius itu, Kemenlu Selandia Baru hanya menyebutkan, perbuatan tersebut terancam hukuman penjara minimal satu tahun.

Saat kedubes AS menolak permintaan itu, maka diplomat tersebut diusir. Seorang star kedubes AS mengatakan, diplomat tersebut sudah meninggalkan Selandia Baru.

Kedubes AS di Wellington, yang saat ini belum memiliki duta besar setelah duta besar sebelumnya yang ditunjuk Barack Obama diberhentikan pemerintahan Donald Trump.

Terkait insiden tersebut, kedutaan besar AS tidak memberikan komentar karena kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian.

"Kami menanggapi serius bahwa salah seorang staf kami melakukan perbuatan yang jauh di bawah standar yang sudah ditetapkan pemerintah AS terhadap staf pemerintahannya," demikian kedutaan besar AS.

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: Telegraph,
TAG: