Kamis, 23 Maret 2017

Internasional

Militer Filipina Blokade Kunjungan ke Pulau Thitu di Laut China Selatan

Jumat, 17 Maret 2017 | 16:01 WIB
AMTI CSIS Pulau Thitu atau Pagasa di Laut China Selatan, yang dikuasai Filipina, namun dalam sengketa dengan China.

MANILA, KOMPAS.com – Militer Filipina membatalkan rombongan anggota DPR dan kepala keamanan untuk mengunjungi salah satu pulau yang disengketakan dengan China di Laut China Selatan.

Para pejabat kemanan Filipina mengatakan hal itu pada Jumat (17/3/2017) sebagaimana dilaporkan Reuters.

Namun, salah satu perwira tinggi militer Filipina mengatakan, pembatalan kunjungan pekan ini ke Pulau Thitu, yang oleh warga lokal disebut Pagasa, untuk melihat bagaimana China bereaksi.

Thitu berdekatan dengan Karang Subi, salah satu dari tuju pulau buatan di gugus kepulauan Spratly, di mana China dituding sedang melakukan kegiatan militer degan menempatkan rudal-rudal dari darat ke udara, dan beberapa persenjataan lainnya.

Filipina telah berseteru dengan China selama bertahun-tahun di Laut Cina Selatan. Namun, hubungan keduanya membaik di bawah pemerintah Presiden Rodrigo Duterte saat ini.

Duterte bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China Wang Yang pada Jumat sore ini.

Lima anggota DPR Filipina bermaksud akan terbang ke Thitu pada Kamis kemarin.

Sedangkan Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana dan panglima militer Inggris, Jenderal Eduardo Ano juga berencana mengunjungi daerah dalam kesempatan yang lain pada Jumat.

Anggota parlemen telah merencanakan untuk menilai peningkatan fasilitas baru yang memang amat dibutuhkan masyarakat nelayan Filipina yang tinggal di pulau di kepulauan Spratly.

Militer mengatakan, perjalanan ditunda karena "masalah keamanan".

Juru bicara kementerian pertahanan, Arsenio Andolong, mengatakan, pendaratan di landasan pacu sangat tidak nyaman karena banyak lubang karena genangan hujan.

AMTI CSIS Perbandingan landasan pacu di Laut China Selatan
"Kita akan membutuhkan setidaknya lima hari tidak hujan dan membuatnya aman lagi untuk didarati pesawat," katanya. Tidak jelas kapan kunjungan itu akan dijadwal ulang.

Letnan Jenderal Raul del Rosario, yang mengomandoi Komando Militer Wilayah Barat Filipina,, mengatakan, ada kekhawatiran tentang bagaimana China bereaksi terhadap kunjungan ke Thitu

"Itu adalah wilayah yang diperebutkan, yang tidak 100 persen milik kita," katanya dalam sidang Kongres, Kamis. 

Editor : Pascal S Bin Saju