Penembakan di Sekolah Perancis Lukai Tiga Orang, Termasuk Guru Kepala - Kompas.com

Penembakan di Sekolah Perancis Lukai Tiga Orang, Termasuk Guru Kepala

Kompas.com - 16/03/2017, 21:44 WIB
The Journal Terjadi penembakan di sebuah sekolah di Perancis, Kamis (16/3/2017), yang melukai kepala sekolah dan dua orang lainnya. Foto ini memperlihatkan letak sekolah tersebut, tetapi dengan pintu masuk ditutup.

GRASSE, KOMPAS.com – Seorang murid bersenjata berat melukai guru kepala sekolahnya dan dua orang lain dalam penembakan di sebuah sekolah menengah di Perancis, Kamis (16/3/2017).

Polisi setempat mengatakan, insiden itu memicu ketakutan baru di kalangan warga yang masih trauma oleh berbagai serangan teroris sebelumnya.

Menurut polisi dan pejabat pemerintah, siswa pelaku berusia 17 tahun itu pun ditangkap tak lama setelah kejadian. Ia memiliki sebuah senapan laras panjang, dua pistol, dan dua granat tangan.

Serangan itu terjadi di sekolah menengah Tocqueville di wilayah Grasse, Perancis selatan, kata polisi kepada Agence France-Presse.

Kepala pemerintahan regional, Christian Estrosi, mengatakan, penembakan itu “sama sekali tidak” sama dengan serangan teror. Dia mengatakan, kepala sekola dan dua murid menderita luka ringan.

Informasi yang beredar masih simpang siur. Dikatakan, bahwa siswa pelaku tersebut tidak sendirian. Ada seorang lainnya lagi yang buron dan polisi masih menyelidikinya.

Polisi awalnya mengatakan, kedua tersangka berkomplot. Namun, sumber kalangan polisi lainnya menyebutkan, siswa berusia 17 tahun itu bertindak sendirian.

"Rasanya seperti beraksi di sebuah film. Kami tidak terbiasa dengan hal itu, kami mendengar tentang masalah seperti ini di Paris, tapi tidak di sini. Saya benar-benar panik," salah seorang murid di sekolah, yang diidentifikasi bernama Andreas, kepada televisi BFM.

Prancis masih dalam keadaan darurat setelah serangkaian serangan teror, termasuk pembantaian tragis di Paris pada November 2015, yang diklaim oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS), dan serangan truk di Nice, 40 kilometer dari Grasse, pada Juli 2016.

Penembakan terbaru terjadi sekitar 40 hari sebelum pemilihan presiden yang bakal dilakukan dalam dua tahap, yakni pada April dan Mei, dengan urusan keamanan menjadi taruhannya.

Pemerintah Perancis telah meningkatkan keamanan di luar sekolah setelah serangkaian serangan jihad sejak Januari 2015 yang telah merenggut ratusan jiwa.

Lebih dari 3.000 petugas cadangan telah dikerahkan untuk membantu pengamanan 64.000 sekolah dasar dan menengah di negara itu.

Perdana Menteri Bernard Cazeneuve mempersingkat lawatannya ke daerah Somme utara karena penembakan Grasse dan ledakan bom surat di kantor Dana Moneter Internasional di Paris, Kamis ini.

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X