Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

KBRI Dampingi WNI Terduga ISIS yang Ditangkap di Malaysia

Rabu, 15 Maret 2017 | 22:43 WIB
Kristian Erdianto Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir saat memberikan keterangan di Ruang Palapa, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2016).

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI Kuala Lumpur terus mendampingi seorang WNI yang ditangkap kepolisian Malaysia karena dituduh terlibat dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, mengatakan KBRI Kuala Lumpur telahmenunjuk seorang pengacara asal Malaysia sebagai kuasa hukumnya.

"Kita lihat di persidangan, sejauh mana bisa dibuktikan bahwa yang bersangkutan memang benar berencana untuk melakukan teror di Malaysia," kata Arrmanatha dalam jumpa pers, Rabu (15/3/2017) siang.

Berdasarkan keterangan Kepolisian Indonesia, pria berinisial A (27) asal Pandeglang, Provinsi Banten itu ditangkap Kepolisian Malaysia pada 21 Februari lalu.

Kepolisian Malaysia mengatakan, A melakukan kontak melalui media sosial dengan seorang warga Malaysia yang diduga anggota ISIS.

Pria Pandeglang itu disebutkan berencana berangkat ke Suriah melalui Malaysia pada 22 Februari 2017.

"Yang bersangkutan berangkat dari Jakarta tanggal 18 Februari dan bermaksud ke Suriah dengan transit di Malaysia," ungkap Arrmanatha.

Dikirimi uang Rp 3 juta

Menurut polisi, perjalanan A ke Malaysia dibiayai seseorang yang diduga merupakan anggota ISIS di Malaysia.

"Dia dikirimi uang sekitar Rp 3 juta dan diduga diiming-imingi fasilitas tempat tinggal ketika tiba di Suriah oleh terduga anggota ISIS itu," kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Martinus, pekan lalu.

Kepada wartawan di Bandung, pekan lalu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga membenarkan pria Indonesia itu diduga akan "bergabung dengan kelompok di Malaysia".

Tanpa menjelaskan latar belakang kelompok tersebut, Tito mengatakan, "Koneksi antara kelompok-kelompok di Indonesia dengan di Malaysia sudah biasa dan sudah lama sekali."

Kapolri menambahkan, pihaknya telah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan kepolisian Malaysia terkait kasus ini.

Kapolri kemudian mencontohkan hubungan kelompok Indonesia-Malaysia sudah berlangsung semenjak kelahiran dan keberadaan kelompok teroris Jamaah Islamiyah dan DII/TII.

"Pada saat mereka (DI/TII) diserang, ditekan, mereka larinya ke Sabah, Serawak. Pada saat zaman Jamaah Islamiyah, juga larinya ke Malaysia," ungkapnya.

"Pelaku dari Malaysia juga larinya ke sini (Indonesia)," tambah Kapolri seraya menyebut keberadaan tokoh Jamaah Islamiyah asal Malaysia seperti Azahari dan Noordin M Top, dua warga Malaysia, yang kabur ke Indonesia.

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: BBC Indonesia,
TAG: