Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

Dari Presiden Jokowi hingga PM Turnbull, Pemimpin Dunia di Era "Selfie"

Rabu, 15 Maret 2017 | 06:23 WIB
VIA Twitter, Triawan Munaf @triawan Presiden Joko Widodo dan PM Malcolm Turnbull ber-selfie di pelabuhan Sydney, akhir Februari 2017.

KOMPAS.com - Selfie, atau self potrait, adalah sebutan untuk memotret diri sendiri, biasanya menggunakan smartphone.

Istilah ini pertama kali dipopulerkan dari negara Australia di tahun 2002.

Kamus Oxford English pernah menjadikan kata 'selfie' sebagai Word of the Year di tahun 2013.

Mereka yang gemar melakukan selfie untuk kemudian dibagikan lewat jejaring sosial, tidak lagi hanya anak-anak muda.

Di kalangan dewasa, termasuk sejumlah tokoh dari kalangan atas juga mengikuti fenomena ini.

Selfie di kalangan selebritas pernah menjadi sorotan dunia saat Ellen DeGeneres, pembawa acara Oscar di tahun 2014.

Dia melakukan selfie dengan 11 bintang film dunia, seperti Meryl Streep, Julia Roberts, Brad Pitt, dan Angelina Jolie.

Majalah Time memasukan foto selfie yang diunggah ke Twitter tersebut dalam daftar 100 Foto Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah.

Selfie sudah merambah dunia politik

Mungkin Anda masih ingat saat Mantan presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, yang menjadi headline di sejumlah media.

Saat itu, Obama ber-selfie dengan PM Denmark kala itu, Helle Thorning-Schmidt, dan Mantan PM Inggris David Cameron.

Mereka ber-selfie di acara pemakaman dan perayaan mengenang mendiang Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, pada tahun 2013.

Selfie telah sering dilakukan sejumlah pemimpin negara saat bertemu warganya atau warga negara lain dalam kunjungan mereka ke luar negeri.

Kebanyakan dari mereka tak lagi keberatan saat ribuan warga meminta berfoto bersama.

Dari perspektif yang melakukan selfie, ini adalah bentuk baru yang menggantikan jabatan tangan atau meminta tanda tangan.

Pandangan itu diungkapkan Dr Nasya Bahfen, Koordinator program Master of Communication jurusan journalism innovation di La Trobe University, Melbourne.

"Berjabat tangan dengan pemimpin dunia bersifat sementara, sementara selfie kurang lebih bersifat permanen," ujar Dr Nasya kepada ABC Australia Plus.

"Jadi, selfie dengan pemimpin politik adalah cara untuk menyimpan momen saat bersama dengan seseorang yang dianggap berpengaruh atau terkenal," ungkap Dr Nasya yang lahir di Jakarta, Indonesia.

Presiden Joko Widodo adalah salah satu pemimpin dunia yang cukup aktif melakukan selfie, termasuk di acara-acara kenegaraan.

Saat kunjungan Raja Arab Saudi, Presiden Joko Widodo bahkan membuat vlog, atau selfie dalam bentuk video dan lebih mirip sebuah blog.

Baru-baru ini ia juga membuat vlog yang menayangkan video kelahiran anak kambing peliharaannya.

Baca: Jokowi Bikin Vlog soal Kelahiran Anak Kambing di Istana Bogor

Dalam kunjungan diplomatik pertamanya ke Australia, Presiden Jokowi terlihat melakukan selfie bersama PM Malcom Turnbull.

Ia pun sempat menyisihkan waktunya untuk merespon ajakan selfie saat bertemu dengan lebih dari 2.500 warga Indonesia di International Convention Centre (ICC) Sydney, 26 Februari 2017 lalu.

PM Malcolm Turnbull pun terlihat menikmati ajakan selfie, saat ia berkunjung ke Indonesia di tahun sebelumnya.

"Saya rasa ada elemen nasisitik di dalamnya, karena tidak keberatan ada orang-orang menghampiri, layaknya seorang bintang atau pemain sepakbola profesional, dan meminta untuk berfoto bersama," tambah Dr Nasya.

Butuh usaha lebih

Susan, warga Jakarta yang kini menetap di Australia memiliki pengalaman menarik saat ia melakukan selfie dengan Presiden Joko Widodo yang berkunjung ke Sydney, 25 Februari 2017 lalu.

Bukan hanya kebetulan Susan ber-selfie dengan Presiden Jokowi. Ia memang sudah melakukan persiapan dan strategi.

"Saya mengetahui dari Facebook sehari sebelumnya jika Bapak Joko Widodo akan mendarat di Bandara Sydney pukul 7 pagi dan akan disambut warga Indonesia," kata Susan.

Menurut Dr Nasya, fenomena selfie dengan tokoh-tokoh dunia tidak lepas dari semakin mudahnya teknologi.

"Teknologi smartphone telah memperbolehkan warga untuk merekam saat bertemu dengan seseorang yang berkuasa atau terkenal, dan membagikannya kepada teman-temannya di jejaring sosial," ujar dia.

"Persepsi dari publik atau media, terlepas benar atau salah, adalah mereka kurang keren kalau menolak ajakan selfie, karenanya para tokoh dunia ingin juga dianggap keren."

Editor : Glori K. Wadrianto
Sumber: Australia Plus ABC,