Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

Beras! Beras yang Agung!

Kamis, 9 Maret 2017 | 23:30 WIB
Dok Karim Raslan Petani Myanmar, U Ko Aye, mulai bekerja setiap hari sejak matahari terbit kemudian makan siang pada pukul 11. Ia hanya meninggalkan ladang ketika matahari terbenam.
Oleh: Karim Raslan

SEMUA dimulai dari sepiring nasi goreng.

Makanan yang sederhana namun bergizi, disajikan dengan udang, bawang merah dan sayuran yang dipotong kecil-kecil. Semua itu diletakan di atas tumpukan nasi paw san yang wangi, produk lokal Myanmar.

Butiran nasinya melengkung di bagian ujungnya seperti nasi basmati, namun tidak teratur bentuknya. Saya berada di kota Pathein, sekitar 195 kilometer arah barat Yangon dan terletak di tengah-tengah dataran rendah Ayeyarwady yang subur.

Saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana keadaan industri beras Myanmar yang sempat mendominasi dunia.

Pada 1950-an (jauh sebelum Jenderal Ne Win merebut kekuasaan pada 1962), Burma adalah eksportir beras terbesar di dunia, dan Rangoon (sekarang dikenal dengan nama Yangon) menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia, tempat dimana kargo-kargo beras dikirimkan ke berbagai tujuan di seluruh belahan dunia.

Dok Karim Raslan Tumpukan stok beras. Myanmar sedang berusaha untuk melipatgandakan ekspor beras pada tahun 2020.
Namun, ketika Ne Win mulai menerapkan kebijakan ekonomi antiasing (seperti ideologinya yang dikenal sebagai “Cara Burma Menuju Sosialis”), industri penting ini kalah berkompetisi dengan Thailand dan negara lain.

Memang terdapat alasan-alasan historis mengapa inisiatif tersebut dilakukan. Pada puncak masa penjajahan, industri beras Myanmar – juga industri-industri lainnya – dikuasai oleh orang asing.

Mulai dari proses penggilingan, penyimpanan, transportasi dan pelayaran hampir seluruhnya dikontrol oleh pebisnis Inggris dan/atau India. Mayoritas lahan padi terbaik telah dikuasai oleh para lintah darat Chettiar dari India Selatan.

Situasi ini menumbuhkan sentimen anti asing di antara orang lokal Burma. Saat ini, Myanmar sedang berusaha menyusul ketertinggalannya dari negara-negara ASEAN lain.

Komoditas beras, yang dahulunya menjadi andalan ekspor Myanmar, menjadi sangat penting bagi pertumbuhan dan kemakmuran Myanmar di masa depan, mengingat lebih dari 61,2 persen populasi masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian mereka.

Tugas ini sangat sulit. Daerah Ayerarwady dengan tanahnya yang subur memiliki kapasitas produksi padi lebih dari 50% dari keseluruhan kapasitas negara.

Namun, kurangnya investasi dan pengabaian selama berpuluh-puluh tahun telah membuat sektor ini kurang siap menjadi penopang ekonomi Myanmar.

Banyak jalanan di pedesaan, saluran irigasi, pabrik penggilingan padi, serta pusat pelatihan dan riset tidak terjaga dengan baik, jika tidak bisa dibilang hancur.

Oleh karena faktor-faktor ini, meski Myanmar mampu menghasilkan beras dengan jumlah yang lebih besar daripada masa penjajahan dulu, Myanmar memiliki reputasi sebagai penghasil beras berkualitas rendah.

Bertemu U Ko Aye

Negara ini telah gagal memanfaatkan letak geografisnya yang strategis antara China dan India, yang merupakan dua pasar potensial yang sangat besar. Sebaliknya, mayoritas ekspor beras Myanmar dikirimkan ke pasar Afrika Barat (dalam bentuk pecahan beras) dan dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga dunia karena kualitasnya yang rendah.

Dok Karim Raslan U Ko Aye adalah petani berusia 59 tahun yang lahir dan tumbuh di Pathein, Myanmar.
Hal ini membawa saya ke U Ko Aye, petani sukses yang saya temui setelah saya menghabiskan nasi goreng saya, yang tinggal sekitar setengah jam lebih dari pusat kota Pathein.

Keluarga U Ko Aye memiliki lahan seluas 70.010 meter persegi yang dia sudah garap selama lebih dari 50 tahun. Dia menikah dan mempunyai dua anak perempuan.

Lelaki berumur 59 tahun ini telah membeli sebuah pompa air kecil dan mampu menanam berbagai macam tanaman. Dia mampu memanen padi dua kali setahun dan seperti tetangga-tetangganya, menanam sawi dan selada air (hanya butuh satu bulan untuk tumbuh).

Pekerjaannya tidaklah mudah. Petani seperti U Ko Aye selalu bergantung pada cuaca dan tingkat ketinggian air walaupun dataran rendah mempunyai irigasi yang lebih baik. Dia tidak menggunakan bahan kimia.

U Ko Aye memiliki sebuah rumah sederhana yang terbuat dari beton dan mempunyai akses air dan listrik. Hidupnya dapat menjadi tanda atas apa yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang.

Namun, kepercayaan dirinya jatuh ketika dia mengarahkan kedua matanya ke kumpulan bangunan di jarak kejauhan.

Dia menjelaskan, “Anak-anak muda lebih suka bekerja di pabrik ber-AC walaupun gaji yang diterima lebih sedikit dibandingkan dengan apa yang mereka bisa hasilkan dengan bertani. Kami juga khawatir jika mereka mengambil lahan kami untuk membangun lebih banyak pabrik.”

Dia juga menanam padi paw san dan menjelaskan bahwa meski memerlukan perawatan yang lebih, bisnis padi ini jauh lebih menguntungkan. Padi ini mampu memberinya pendapatan sedikitnya 25 persen lebih dari varietas padi lainnya.

 

Page:

Editor : Amir Sodikin
TAG: