Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

RI-Australia Kirim Penyelam ke Bangkai Kapal HMAS Perth di Selat Sunda

Rabu, 1 Maret 2017 | 18:43 WIB
ABC TV Kapal HMAS Perth dalam Perang Dunia II.

KOMPAS.com - Pada Maret ini, Australia dan Indonesia akan mengirimkan penyelam ke bangkai kapal HMAS Perth, yang ditenggelamkan Jepang di selat antara Pulau Jawa dan Sumatera pada 1 Maret 1942.

Penyelaman itu akan menjadi survei paling komprehensif terhadap kapal yang mengangkut 681 pelaut, yang pernah dilakukan sejak akhir 1960-an.

Sebanyak 218 orang berhasil pulang ke Australia dalam peristiwa 75 tahun silam itu.

"Kami menyadari lebih dari 300 pelaut Australia kehilangan nyawanya saat tenggelam. Dan mungkin masih ada sisa-sisa kerangka manusia di sana," ujar Michael Harvey.

Michael Harvey adalah perwakilan Museum Maritim Australia, yang akan memimpin operasi penyelaman. 

"Tapi hal itu bukan sesuatu yang bisa kami mengomentari secara detail sebelum kami sampai di sana," kata dia lagi.

Dia menyebut, jika penyelaman berhasil dan ditemukan kerangka manusia, maka tidak akan disentuh sama sekali. Korban yang mati dalam perang tidak akan diganggu.

Puing-puing ini pertama kali disurvei oleh penyelam pada tahun 1967.

Sejak itu, wisatawan penyelam sering berkunjung ke lokasi dan, dalam beberapa kasus, melaporkan kepada Pemerintah Australia tentang apa yang mereka lihat.

"Tapi ini akan jadi survei komprehensif pertama yang memeriksa secara detail bangkai kapal dan puing-puing di sekitarnya sejak penyelaman 1967," kata Harvey.

Mungkin sudah rusak

Pada Desember tahun lalu, museum dan pusat penelitian arkeologi Indonesia melakukan survei sonar atas bangkai kapal, menunjukkan memburuknya situs itu secara signifikan sejak tahun 1967.

Diperkirakan para pemulung telah merusak HMAS Perth untuk dijadikan besi tua.

Laporan menunjukkan kapal perang lainnya -termasuk tiga kapal Jepang yang tenggelam di Indonesia, telah hancur oleh pemulung.

"Kita akan melihat bukti beberapa penyelamatan," kata Harvey.

"Tapi kondisi bangkai bukan sesuatu yang bisa kita jelaskan secara detail sampai tim sudah menyelam dan melihatnya secara komprehensif," kata dia lagi.

Dia mengatakan setelah penyelam menilai bangkai kapal, fokusnya bergeser pada perlindungan kapal tersebut.

Ia mengatakan Angkatan Laut RI sudah mulai berpatroli di sekitar lokasi.

Dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke Australia pekan lalu, kedua negara sepakat memperkuat kerjasama di bidang warisan budaya maritim.

Namun, kapal itu berada di Perairan Indonesia sehingga Australia harus mematuhi setiap ketentuan yang diterapkan oleh Jakarta.

HMAS Perth berlayar dengan kapal USS Houston saat diserang. Kapal AS itu pun tenggelam dalam serangan itu.

"Fokus utama kami adalah melaksanakan penelitian di kapal Perth, tapi kita menyadari bahwa kapal Houston juga ada di sana. Dan ada kepentingan di AS juga mengenai keselamatan Houston," kata Harvey.

"Jika kami dapat membantu, kami akan lakukan," katanya.

Dua penyelam Australia dan dua penyelam Indonesia akan mulai melakukan penyelaman survei ini.

Editor : Glori K. Wadrianto
Sumber: Australia Plus ABC,