ISIS Ancam Kristen Mesir, Unggah Video Pengebom Gereja Koptik - Kompas.com

ISIS Ancam Kristen Mesir, Unggah Video Pengebom Gereja Koptik

Kompas.com - 20/02/2017, 17:39 WIB
Associated Press Sejumlah petugas berpakaian sipil memeriksa lokasi ledakan bom di dalam Gereja Katedral Koptik Santo Markus, Kairo, Mesir pasca ledakan yang menewaskan 29 orang pada Minggu (11/12/2016).

KAIRO, KOMPAS.com - Kelompok Negara Isam di Irak dan Suriah (ISIS) telah menyebarkan video mengancam penganut Kristen Mesir dan menampilkan pernyataan terakhir pria, pengeboman di Katedral Koptik Kairo pada Desember 2016.

Kelompok ISIS menyebut pria bertopeng dengan baju perang itu sebagai Abu Abdallah al-Masri, demikian Reuters,  Senin (20/2/2017), tentang video yang diunggah hari sebelumnya.

Pria itu tampak mendorong petempur seluruh dunia tidak menyerah dan berjanji bahwa anggota terpenjara di Mesir segera dibebaskan ketika kelompok itu "memerdekakan" Kairo.

Presiden Abdel Fattah al-Sisi mengenali pengebom itu sebagai mahasiswa berusia 22 tahun bernama Mahmoud Shafik.

Pemerintah Mesir mengatakan, Abu Abdallah al-Masri diduga nama aliasnya. Ia ditahan dua bulan pada 2014 sebelum bergabung dengan ISIS di Sinai.

"Akhirnya, bagi saudara-saudaraku di penjara, berbahagialah, kalian orang percaya, tidak goyah atau berduka. Saya bersumpah, demi Allah, kami akan segera membebaskan Kairo dan membebaskan Anda dari tahanan. Kami akan datang membawa bahan peledak," katanya dalam video.

Sedikitnya 28 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas pada Desember 2016 ketika sebuah bom meledak di sebuah kapel yang berdampingan dengan Katedral St Markus.

Gereja Koptik, yang dianut sekitar 10 persen dari 90 juta warga Mesir, adalah komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah.

ISIS mengaku bertanggung jawab atas pengeboman itu, serangan yang paling mematikan di Mesir di luar Semenanjung Sinai, tempat kelompok itu melancarkan pemberontakan sejak 2013.

Serangan Kairo, ditambah dengan menggunakan simbol grup baru "ISIS di Mesir" untuk melawan "Provinsi Sinai", menunjukkan perluasan operasi ke seluruh negara.

Pemerintah Mesir mengatakan pada Desember bahwa pengebom mendukung gerakan Ikhwanul Muslimin.

Tetapi kelompok itu mengecam serangan itu dan menuduh pemerintahan Sisi gagal melindungi kelompok minoritas tersebut dan gereja.

Sisi merebut kekuasaan pada tahun 2013, menggulingkan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) dan Presiden Mohammad Mursi, dan sejak itu telah melarang IM dalam sebuah aksi penindakan keras yang menyebabkan ratusan tewas dan ribuan dipenjara.

Kelompok itu mengatakan bahwa gerakannya adalah gerakan damai tetapi kelompok itu telah terbagi menjadi beberapa kelompok yang saling bersaing.

Beberapa mantan pendukung membentuk kelompok yang melaksanakan serangan terhadap polisi dan pejabat yudisial.

Kecewa dengan kegagalannya menerima demokrasi, pendukung muda kelompok itu telah pergi berjuang ke Suriah atau bergabung dengan sayap lokal ISIS, yang sejak tahun 2013 membunuh ratusan tentara dan polisi di Sinai.

Pada Sabtu, satu pengadilan Mesir mengumumkan gerakan fanatik Hasm, yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok terlarang IM, sebagai organisasi teroris.

Hasm mengaku bertangung-jawab atas sejumlah serangan hingga menewaskan beberapa polisi di Mesir, tapi gerakan ini mengutuk ledakan di gereja pada Desember, yang menewaskan 20 pemeluk Koptik, dan mengatakan Hasm membidik petugas keamanan, bukan warga.

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM