Jumat, 24 Februari 2017

Internasional

Seruan soal Larangan Muslim Masuk AS Sempat Lenyap dari Situs Trump, Ada Apa?

Jumat, 11 November 2016 | 13:33 WIB
Jason Connolly / AFP .

WASHINGTON, KOMPAS.com - Salah satu janji yang paling menggelisahkan sebagian warga Amerika Serikat saat Donald Trump berkampanye adalah soal larangan warga Muslim masuk ke AS.

Satu janji kampanye tersebut sempat menghilang dari situs kampanye Presiden AS dari Partai Republik ini, sebelum kembali muncul pada Kamis atau Jumat WIB (11/11/2016).

Salah satu staf kampanye Trump mengatakan kepada media, teks yang diunggah pada bulan Desember pasca serangan teror di San Bernardino, California, lenyap karena kesalahan teknis.

Janji itu kembali dimunculkan setelah ada wartawan yang mempertanyakan hilangnya janji kampanye tersebut.

"Segala hal spesifik dalam bentuk siaran pers yang ada di laman itu pun dialihkan ke homepage. Hal itu kini sedang diperbaiki dan akan pulih dalam waktu tak lama," demikian bunyi pernyataan tertulis dari tim kampanye Trump. 

Bulan Desember lalu, Trump mengatakan, imigran Muslim membawa ancaman bagi keamanan di AS. Dia lantas menyerukan langkah pelarangan warga Muslim masuk ke AS secara total.

"Sampai otoritas di negeri ini mampu memetakan apa yang sebenarnya sedang terjadi," demikian tulis Trump, seperti dikutip AFP.

Poin itu menjadi salah satu dari sekian pokok pikiran yang dipublikasikan di website tersebut.

Pernyataan lainnya termasuk pembangunan tembok pemisah antara Mexico dan AS, dan kritik Trump soal pengakuan para wanita yang menyebut pernah dilecehkan oleh pengusaha kaya raya itu. 

Pokok-pokok pikiran Trump tersebut telah menimbulkan keresahan dan perlawanan besar dari publik di AS, dan menyebutnya sebagai xenophobia.

Xenofobia adalah ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing.

Beberapa definisi menyatakan xenofobia terbentuk dari keirasionalan dan ketidakmasukakalan.

Tak lama kemudian, Trump mengubah pernyataannya dengan menyebut petugas imigrasi harus menangguhkan masukan imigran dari negara mana pun, yang berkompromi dengan terorisme. 

Sikap Trump itu kemudian diyakini membantu mendongkrak perolehan suara dari kelompok kulit putih AS dan warga kelas pekerja di negeri itu. 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Glori K. Wadrianto