Eka Kurniawan - Kompas.com

Eka Kurniawan

Karim Raslan
Kompas.com - 27/10/2016, 20:00 WIB
Taring Padi Gallery by Nasirun Lukisan Nasirun berjudul "Mitos dan Legenda Alas Pasetran Gondo Mayit" (2002).

"Cantik itu Luka" karya Eka Kurniawan yang meraih penghargaan World Readers, bukanlah ditujukan untuk pembaca novel yang mudah muntah jika membaca sesuatu yang menjijikkan dan sensitif.

Novel yang gamblang menuliskan air mani, darah menstruasi, kotoran, dan air seni ini, juga bukan sebuah bacaan yang perempuan suka, bukan tentang perzinahan kaum borjuis di Desa Hampstead, dan bukan pula tentang kejahatan di Eropa.

Eka membawa para pembacanya ke sebuah masyarakat di Pulau Jawa--yang mengingatkan kita pada sebuah pulau dengan populasi terbanyak di dunia (150 juta penduduk di area seluas Inggris dan masih akan terus bertambah…)—yang kehidupannya jauh lebih riuh dibandingkan kesopanan dan kepasifan kaum elite yang punya ciri khas gaya tarian istananya dan gaya bicaranya yang tersamar.

Novel ini mengisahkan sesuatu secara tajam dan suram. Dengan rangkaian cerita yang dituturkan secara baik serta memunculkan berbagai karakter dan peristiwa, "Cantik Itu Luka" juga sesak dengan kata-kata yang lugas namun penuh arti, seperti omongan si preman, Maman Gendeng, tentang manusia.

"Semua manusia mamalia seperti anjing, dan berjalan dengan dua kaki seperti ayam."

Jawa bagi Eka pada akhirnya lebih dari sebuah latar belakang.

Dia pun menciptakan sebuah kota imajinasi, Halimunda, yang memiliki kemiripan dengan kota Macondo ciptaan Gabriel Garcia Marquez atau Yoknapatawpha ciptaan Wiliam Faulkner.

Di Halimunda, berkembang banyak pengaruh agama dan kultur--Hindu, Muslim, kepercayaan animisme, Eropa dan Tiongkok–-sangat membingungkan. Mereka adalah elemen terbaik dari berbagai pilihan yang tersedia namun sulit untuk dimengerti.

Dewi Ayu, seorang perempuan yang cantik dengan ras campuran (anak dari hasil hubungan inses) adalah lakon utama dalam novel ini. Novel ini dimulai dengan peristiwa bangkitnya kembali Dewi Ayu yang tidak terduga dari liang kuburnya – sebuah kejadian yang umum terjadi (setidaknya di Halimunda), seperti umumnya perempuan pergi ke pasar.

Setelah kembali ke rumahnya, dia disambut pembantu setianya yang bisu dan tuli, Rosina. Dewi Ayu lalu mandi dan makan dengan lahap dan setelah itu dia bersendawa sembari buang angin.

Eka melukiskannya, "…mengeluarkan bunyi bercerucut di lubang pantatnya, sejenis kentut yang tertahan…"

Cerita novel ini berputar kembali ke masa sebelum perang, yakni masa kolonial Belanda, di saat Dewi Ayu melewati masa kanak-kanaknya yang indah—banyak kelompok pemain tenis, pelayan yang patuh, perumahan keluarga yang tersebar di mana-mana dan kemewahan seperti Kota Buitenzorg--sebelum kemudian semuanya hancur oleh invasi Jepang, hingga memunculkan banyak pemakaman, kekerasan, dan prostitusi.

Dewi Ayu digambarkan sebagai seorang perempuan bergairah dan sukar dipuaskan. Kalau mengingat sederetan wajah-wajah Asia yang cantik (dari Pevita Pearce dari Indonesia sampai Anne Curtis Smith dari Filipina) yang muncul di layar TV dan dunia perfilman di Asia Tenggara, daya tarik Dewi Ayu barangkali tidak mengherankan.

Apa yang menyegarkan dari Dewi Ayu adalah gelora dan perkataannya yang tajam dan tak terlupakan. Contohnya, ketika dia menggambarkan anak-anak perempuannya, "Mereka pergi begitu tahu bagaimana membuka kancing celana lelaki."

Muhammad Yusuf Lukisan Muhammad Ucup' Yusuf berjudul "Catching Javanese Eyes" (2015).
Bagi Dewi Ayu, dengan mata birunya yang mencolok dan kulitnya yang halus, cinta adalah lebih dari sebuah komoditas, sesuatu yang dia perdagangkan untuk dapat bertahan hidup. Dia menguatkan dirinya untuk memuaskan hasrat komandan kamp penjara Jepang demi mendapatkan obat-obatan.

Beberapa tahun kemudian, ketika telah menjadi pelacur yang paling didambakan di kotanya, Dewi Ayu menyadari bahwa ketabahan hatinya telah menyelamatkannya dari sakit hati dan duka yang menimpa anak-anak perempuannya dan kekasih-kekasih mereka.

Eka sering kali dibandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer, novelis sastra penganut paham "kiri" pada era Sukarno yang hidupnya kemudian diikuti oleh peristiwa-peristiwa buruk. Namun, perbandingan ini tidaklah tepat.

Eka dengan senang hati memunculkan sisi kemanusiaan dari tokoh yang dia ciptakan. Sebaliknya, Pramoedya berkomitmen pada ideologi dogmatis yang kuat, hingga dia terlihat terjebak di dalam obsesinya itu.

Sisi kemanusiaan yang tumbuh di masa berkembangnya ajaran agama yang konservatif itulah yang membuat "Cantik itu Luka" menjadi sangat luar biasa, begitu didambakan, dan yang terpenting, novel ini di luar norma-norma yang ada.

Terkecuali Dewi Ayu, karakter-karakter lainnya dalam novel ini digambarkan Eka sebagai budak dari emosi-emosi mereka. Seperti ketika mereka jatuh cinta, dunia seakan berhenti. Sebuah peristiwa yang tak terduga menimbulkan gema di sepanjang bentangan Pulau Jawa hingga samudera.

Eka juga melukiskan, meja-meja terbalik ketika anak perempuan kedua Dewi Ayu yang manipulatif, Allamanda, jatuh cinta pada Kliwon, aktivis komunis yang menawan.

"Ketika ia mulai menyadari bahwa ia sungguh-sungguh dibuat jatuh cinta, ia merasai ngeri pada kesadaran bahwa ia telah dikalahkan dan mencoba membunuh rasa cinta itu dengan memikirkan cara-cara paling mengerikan untuk membuat laki-laki itu jatuh di kakinya."

Seperti yang dituliskan Jon Fasman di the New York Times, hasil karya Eka menunjukkan kepada kita, "….bagaimana aliran sejarah menangkap, memutar, membawa dan terkadang menenggelamkan orang-orang."

Eka Kurniawan adalah seorang pencerita Asia Tenggara dengan pemahaman yang luar biasa terhadap materinya. Dia menolak segala sesuatu yang terlalu sopan dan borjuis. Sebaliknya, dia menikmati hal-hal yang manusiawi dan sederhana.

Dia membuat kita tertawa, tersedu sedan, dan menangis yang sering kali terjadi dengan cepat dalam urutan tersebut.

Novel ini sangat mirip dengan seni pertunjukan wayang pada malam hari. Ini benar dan saya rela melakukan apapun untuk menjadi sang penulis.

EditorTri Wahono
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM