Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

Presiden Korea Selatan Ajak Rakyat Korea Utara untuk Membelot

Sabtu, 1 Oktober 2016 | 18:35 WIB
BBC Presiden Korsel Park Geun-hye berkeras tidak akan menghentikan siaran propaganda ke wilayah Korut sampai Korut minta maaf atas insiden ledakan ranjau.

SEOUL, KOMPAS.com - Presiden Korea Selatan Park Geun-hye, Sabtu (1/10/2016), menyerukan kepada warga Korea Utara untuk meninggalkan negara mereka dan membelot ke selatan.

Pernyataan ini disampaikan Presiden Park berselang sehari setelah seorang prajurit Korea Utara sukses melintasi perbatasan kedua negara yang dijaga ketat untuk membelot.

Dalam sebuah pesan yang jarang sekali disampaikan langsung untuk rakyat Korea Utara, Presiden Park mengundang rakyat negeri tetangganya itu untuk menikmati kebebasan di Selatan.

"Kami mengetahui kenyataan pahit yang kalian hadapi," kata Park dalam pidatonya di peringatan hari angkatan bersenjata Korea Selatan.

"Nilai-nilai universal kebebasan, demokrasi, HAM dan kesejahteraan adalah hak-hak luar biasa yang seharusnya kalian nikmati," tambah dia.

"Kami akan membuka jalan bagi kalian yang ingin menemukan harapan dan menikmati kehidupan baru. Silakan datang ke kebebasan di Selatan, kapanpun kalian mau," Park menegaskan.

Seruan ini muncul sebulan setelah wakil duta besar Korea Utara di London membelot ke Selatan, sekaligus memberikan Seoul peluru propaganda luar biasa di tengah ketegangan di Semenanjung Korea.

Hubungan kedua Korea ini mencapai titik terendah sejak puncak Perang Dingin pada 1970-an setelah Pyongyang melakukan uji coba lebih dari 20 rudal dan menggelar dua tes nuklir tahun ini.

Park menambahkan, pembelotan yang dilakukan rakyat Korea Utara untuk menghindari kelaparan dan tekanan kian hari kian bertambah.

Pada April lalu, 12 orang pelayan dan manajer rumah makan Korea Utara di China menjadi berita utama setelah mereka tiba di Seoul dalam sebuah pembelotan bersama-sama yang jarang terjadi.

Sejauh ini terdapat sekitar 30.000 warga Korea Utara yang meninggalkan negeri itu demi menghindari kelaparan, kemiskinan dan tekanan penguasa. Mereka kini tinggal di Korea Selatan.

Namun, jumlah pembelot, yang biasanya mencapai 2.000-an orang setahun, menurun hingga separuhnya sejak Kim Jong Un berkuasa menggantikan ayahnya, Kim Jong Il yang meninggal dunia.

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: AFP,