Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

Jepang Serahkan Dua Kapal Patroli untuk Filipina

Jumat, 12 Agustus 2016 | 17:27 WIB
MANMAN DEJETO / AFP Menlu Jepang Fumio Kishida dalam jumpa pers di Davao, Filipina, Jumat (12/8/2016).

MANILA, KOMPAS.com - Pemerintah Jepang, Jumat (12/8/2016), mengumumkan segera memberikan dua kapal baru untuk AL Filipina demi meningkatkan kemampuan patroli laut negara itu.

Jepang, sumber bantuan utama Filipina, mengatakan, sedang mendiskusikan proses kredit pembelian pesawat pengintai untuk  meningkatkan kapasitas pasukan penjaga pantai Filipina.

Kedua kapal baru dan pesawat terbang ini merupakan bagian dari 10 kapal penjaga pantai yang dijanjikan Tokyo kepada presiden terdahulu Filipina, Benigno Aquino.

"Kami sedang membicarakan tentang kapal-kapal berukuran besar dengan panjang 90 meter. Kami juga membicarakan kemungkinan kredit pemberian pesawat pengintai," kata Masato Ohtaka, wakil sekretaris pers Kemenlu Jepang kepada wartawan di Manila.

Ohtaka melanjutkan, kapal-kapal baru itu merupakan satu dari berbagai topik yang dibicarakan Menlu Jepang Fumio Kishida dan Presiden Rodrigo Duterte pada Kamis (11/8/2016) di kota Davao.

Dalam pertemuan itu, kepada Kishida, Duterte mengatakan, soal pendekatan "lembut" yang digunakannya untuk menghadapi China pasca-keputusan mahkamah arbitrasi di Belanda.

"(Saya tak ingin) memulai kekerasan saat ini dan Jepang juga memiliki keinginan yang sama. Jepang juga menginginkan dialog dan tak ingin serangna baru," ujar Duterte.

Sementara itu, Menlu Filipina Perfecto Yasay mengatakan negaranya dan Jepang sama-sama memiliki pengalaman bagaimana menghadapi intimidasi China di lautan.

Sehingga, Yasay dan Kishida mendesak Beijing untuk mematuhi aturan yang berlaku meski China telah bersumpah tak akan mengakui keputusan mahkamah arbitrasi internasional.

Filipina dan Jepang sama-sama memiliki sengketa wilayah lautan dengan China.

Filipina dan China saling berebut sejumlah pulau karang di Laut China Selatan, maka China dan Jepang memimliki masalah yang sama di Laut China Timur.

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: AFP,