Teror di Ataturk Imbas Lemahnya Politik Dalam Negeri di Turki - Kompas.com

Teror di Ataturk Imbas Lemahnya Politik Dalam Negeri di Turki

Kompas.com - 01/07/2016, 08:00 WIB
AFP PHOTO / OZAN KOSE Tim forensik kepolisian Turki bekerja di titik ledakan di Bandara Ataturk, Selasa (28/6/2016) malam, pasca-ledakan bom bunuh diri dan serangan bersenjata yang menewaskan 41 orang.

KOMPAS.com - Aksi teroris di Eropa yang kini terjadi di di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki, Selasa malam, kembali menyasar "target lunak", yakni warga sipil.

Hal ini menjadi pertanda bahwa fase baru gelombang kekerasan yang dilancarkan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) telah melanda dunia.

Harian Italia Corriere della Sera dalam tajuknya berkomentar, serangan teror bunuh diri di bandar udara Istanbul menandai awal "fase kekerasan baru" kelompok teroris.

Teroris menyasar para wisatawan di saat musim turis yang sebelumnya sudah menjadi bagian problematis di Turki.

Sementara harian liberal kiri Spanyol El Pais yang terbit di Madrid berkomentar, masalah keamanan yang rumit adalah tantangan berat bagi Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Selain dipengaruhi politik dalam negeri, politik luar negeri Turki kini juga memainkan peranan penting.

Sesaat menjelang serangan teror di Ataturk, Turki mencatat reformasi bersejarah melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel dan Rusia.

Baca: Setelah 6 Tahun Rusak, Turki-Israel Resmi Teken Kesepakatan Pemulihan Hubungan

Erdogan disebut telah menunjukkan pragmatisme dan kesiapan berdialog. Namun, menyangkut politik dalam negerinya, dua sikap itu tidak terlihat.

Kini, Ankara juga harus menunjukkan sikap yang lebih banyak terkait dalam tema etnis Kurdi, krisis pengungsi, dan konflik Suriah.

Di bidang ini, Erdogan disebut harus memperluas pragmatismenya. Bagaimana pun, Turki memerlukan bantuan dan solidaritas dalam perang melawan teror.

Harian Jerman Osnabrücker Zeitung menulis komentar bernada kritis terhadap Turki terkait sikap dalam menangani ISIS.

Kelompok teroris itu meninggalkan jejak pembunuhan berdarah amat panjang mulai dari Eropa, Afrika Utara dan kawasan Timur Tengah.

Serangan di Istanbul memang tidak menyasar warga Turki, namun bukan berarti tanda bahaya bisa dicabut. Serangan teror di Paris menjadi buktinya.

Sikap lunak Turki selama ini yang tidak menindak tegas teroris ISIS karena memandang mereka sebagai mitra dalam perang melawan diktator Suriah, akan dibalas dengan teror mengerikan.

Sekarang bagi Turki jauh lebih penting mulai mengonsentrasikan kekuatan untuk memberantas ISIS, dan berusaha menjalin perdamaian dengan separatis Kurdi (PKK).

Koran Jerman Kölner Stadtanzeiger menulis komentar senada. Peningkatan keamanan di Jerman, Perancis atau Turki, dalam waktu dekat ini tidak dapat diharapkan.

Malahan sebaliknya, ancaman teror akan makin meningkat. Selain itu, langkah politis tidak akan banyak membantu, sebab kelompok teroris fundamentalis ini tidak bersedia melakukan dialog apa pun.

Di bawah "situasi perang" di kawasan itu, tidak mungkin dilakukan perundingan damai. Jadi, harus diantisipasi, bahwa aksi teror di masa depan akan terus berlanjut seperti sebelumnya.

EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X