Ramadhan di Jerman: Air Putih Pun Serasa Es Dawet - Kompas.com

Ramadhan di Jerman: Air Putih Pun Serasa Es Dawet

Kompas.com - 16/06/2016, 18:13 WIB
via DEUTSCHE WELLE .

KOMPAS.com - Mulai dari "bablas" sahur, buka puasa, sampai terlewat halte bis: inilah beragam suka duka warga Indonesia yang tinggal di Jerman di bulan puasa. Rata-rata yang mereka rasakan: rindu keluarga di tanah air.

Berikut sejumlah kesaksian warga Indonesia di Jerman yang dilansir laman Deutsche Welle, Kamis (16/6/2016).

Banyak hal ajaib yang dirasakan Andias Wira Alam saat berpuasa di Jerman. Pada musim panas dimana puasa bisa 18 jam panjangnya, air putih yang diminumnya saat buka serasa senikmat es dawet.

Karyawan IT ini tinggal bersama istri dan dua putrinya di kota Bonn, Jerman.

Berbeda dengan Wira, Devi Fitria mengaku harus menjelaskan pada rekan kerjanya yang non-Muslim mengapa ia stop makan, minum dan merokok pada bulan puasa.

Kini rekannya pun bisa lebih mengenal makna Ramadhan.

Devi berpuasa di tengah kesibukan kerja dan tenggat waktu tesis. Dulu saat kerja di sektor gastronomi, berat baginya berpuasa karena berjam-jam lamanya ia harus berdiri, menuang minuman dan menyiapkan makanan bagi tamu.

Lalu ada pula, Anggi Pradita. Dengan segudang kegiatan mulai dari kuliah, kerja di kafe dan layanan kebersihan, serta aktif dalam kegiatan mahasiswa dan budaya, membuat puasanya lebih menantang.

Meski sibuk berat, sejak tahun 2011 tinggal di Jerman, Anggi tak pernah sakit ketika berpuasa.

Walau durasi puasa lebih lama, Anggi lebih suka berpuasa di Jerman: “Di Jerman tak banyak godaan, misalnya godaan jajanan bakso yang banyak mangkal di jalanan Indonesia.

Ada juga Joko Suseno, yang mengaku sering merindukan suasana “heboh“ di kampung halaman, silaturahmi dengan teman-teman atau organisasi lain dengan berbuka puasa bersama.

Pendiri Perguruan silat di Jerman ini sempat tak puasa ketika sakit kepala mendera dan harus minum obat.

Namun jarang sekali puasanya ‘bolong‘. Bahkan saat puasa, ia tetap mengajar silat di dua kota, Bonn dan Köln seperti biasa.

Kemudian, ada lagi pengalaman Siti yang saat masih di Indonesia sangat senang bisa tarawih bersama kawan-kawan.

Di Jerman, tiap bulan puasa tiba, awalnya kesepian. Namun kini--Siti yang sangat aktif mengorganisasi kegiatan budaya dan sosial di Jerman-- senang melihat banyak orang di Jerman yang juga berpuasa.

Ia dan kawan-kawan kadang ‘begadang‘ bersama menunggu sahur tiba.

Juga ada Syamsir Alamsyah yang memutuskan pulang kampung ke Kalimantan saat bulan puasa.

Gitaris band Melayu di Jerman ini mengatakan: “Susah puasa di Jerman. Karena jatuhnya pada musim panas, banyak perempuan cantik jalan-jalan atau menikmati matahari yang jarang muncul di Jerman, dengan busana seronok".

"Di kampung, saya sibuk bersama keluarga dan teman, tak sempat jalan-jalan keluar seperti di Jerman,“ seloroh dia.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorGlori K. Wadrianto
Komentar