Afsel Bebaskan Eks Polisi Pembunuh Ratusan Aktivis Anti-apartheid - Kompas.com

Afsel Bebaskan Eks Polisi Pembunuh Ratusan Aktivis Anti-apartheid

Kompas.com - 30/01/2015, 19:45 WIB
WALTER DHLADHLA / AFP Foto ini diambil pada 21 Juli 1998 di Pretoria, Afrika Selatan, menampilkan Eugene de Kock tengah dikawal petugas penjara menghadiri sidang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC). Meski diampuni dari sebagian besar kejahatannya di masa rezim apartheid berkuasa, De Kock tetap dijatuhi hukuman penjara total 289 tahun untuk 87 kejahatan termasuk pembunuhan dan penyiksaan ratusan aktivis anti-apartheid.
PRETORIA, KOMPAS.com — Salah seorang pembunuh paling kejam pada masa rezim apartheid masih berkuasa di Afrika Selatan, Eugene de Kock alias Si Setan, bebas bersyarat, Jumat (30/1/2015), setelah mendekam 20 tahun dalam penjara.

"Dalam kerangka pembangunan bangsa dan rekonsiliasi, saya memutuskan untuk memberikan pembebasan bersyarat untuk Tuan De Kock," kata Menteri Pemasyarakatan Michael Masutha dalam sebuah jumpa pers.

De Kock diganjar hukuman dua kali seumur hidup ditambah 212 tahun penjara terkait aktivitasnya sebagai pemimpin pasukan Vlakpaas yang tugasnya mengincar para aktivis anti-apartheid.

Mantan kolonel kepolisian Afrika Selatan itu mengaku telah melakukan lebih dari 100 pembunuhan, penyiksaan, dan penipuan kepada Komisi Kebendaran dan Rekonsiliasi (TRC) yang dibentuk pada 1995 untuk mempertimbangkan amnesti bagi mereka yang mengakui kejahatan di masa apartheid.

TRC memberikan amnesti untuk sebagian besar tindak kriminal yang dilakukan De Kock, termasuk pengeboman kantor ANC London pada 1982, tetapi dijatuhi hukuman penjara untuk enam pembunuhan yang tidak bermotif politik.

Pemberian pembebasan bersyarat ini memicu debat terkait kejahatan yang pernah dilakukan rezim minoritas kulit putih. Bagi sebagian warga Afrika Selatan, kejahatan yang dilakukan De Kock tak bisa dimaafkan.

Namun, bagi sebagian orang lainnya, De Kock merupakan simbol orang yang menjalani hukuman karena menjadi kambing hitam bagi pelaku kejahatan sebenarnya yang justru tak pernah dijatuhi hukuman. Hal itulah yang menjadi pokok pembelaan De Kock tahun lalu saat permohonan pembebasan bersyaratnya ditolak.

"Saya satu-satunya anggota kepolisian Afrika Selatan yang menjalani hukuman penjara untuk kejahatan yang saya lakukan, sebagai bagian upaya Partai Nasional menegakkan apartheid dan memerangi gerakan kebebasan," ujar De Kock.

"Tak satu pun mantan jenderal atau menteri kabinet hingga 1990 yang didakwa atas kejahatannya," tambah dia.

Selama menjalani hukumannya, De Kock disebut sebagai model tahanan teladan. Dia mau menemui keluarga para korbannya dan bekerja sama dengan pemerintah untuk menemukan kembali jasad korban-korbannya.

EditorErvan Hardoko
SumberAFP
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM