Untuk Kali Pertama, Virus Ebola Memasuki AS - Kompas.com

Untuk Kali Pertama, Virus Ebola Memasuki AS

Kompas.com - 03/08/2014, 00:08 WIB
Jessica McGowan / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP RS Universitas Emory, Atlanta yang akan merawat dua warga AS yang terjangkit ebola setelah ikut membantu penanganan wabah penyakit ini di Afrika. Ini adalah kali pertama penderita ebola dirawat di wilayah AS.
WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Untuk kali pertama virus penyakit mematikan ebola masuk ke wilayah Amerika Serikat, ketika sebuah pesawat jet pribadi yang membawa pulang salah seorang sukarelawan AS yang terinfeksi penyakit ini mendarat di Atlanta, Georgia, Sabtu (2/2/2014).

Pesawat jet yang dirancang khusus itu membawa Kent Brantly, seorang dokter yang bekerja merawat pasien ebola di Liberia. Pesawat jet itu tiba di Pangkalan Udara Dobbins di luar kota Atlanta.

Rekaman gambar yang diambil kru televisi dari jarak jauh memperlihatkan pesawat jet tersebut ditarik memasuki hangar yang di dalamnya sudah siaga sebuah ambulans dan beberapa mobil lainnya.

Konvoi ambulans dan sejumlah mobil itu kemudian terlihat melaju menuju ke RS Universitas Emory Atlanta untuk menempatkan pasien di ruang isolasi. Perjalanan konvoi ambulans menuju rumah sakit itu disiarkan langsung sejumlah stasiun televisi.

Kent Brantly dan misionaris Nancy Writebol dikabarkan dalam kondisi serius namun stabil setelah terinfeksi virus penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu.

Kedua warga AS itu diketahui ikut membantu upaya memerangi wabah ebola terburuk di Afrika barat yang sejak Maret lalu sudah mengakibatkan lebih dari 700 orang meninggal dunia.

Brantly dan Writebol akan dirawat di unit isolasi RS Emory, yang pernah digunakan untuk merawat penderita SARS pada 2013 saat penyakit itu menjadi epidemi.

Ini adalah kali pertama pasien ebola dirawat di wilayah Amerika Serikat. Fakta ini membuat sebagian orang khawatir, bahkan taipan Donald Trump mengatakan kedua pasien ebola itu seharusnya tidak diperkenankan kembali ke AS.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorErvan Hardoko
SumberAFP
Komentar