Jumat, 19 Desember 2014

News / Internasional

Habibie Duga MH370 Malaysia Airlines Meledak di Ketinggian 10 Km

Jumat, 21 Maret 2014 | 02:55 WIB
AMSA Foto satelit menunjukkan 2 objek yang diduga puing pesawat Malaysia Airlines. Pemerintah Australia, Kamis (20/3/2014), mengumumkan temuan dua obyek yang diduga berhubungan dengan pesawat Malaysia Airlines yang hilang sejak Sabtu (8/3/2014).
JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Presiden yang di tataran internasional juga diakui sebagai pakar pesawat terbang, BJ Habibie, berpendapat pesawat Boeing 777-200ER berkode penerbangan MH370 milik Malaysia Airlines yang hilang sejak 8 Maret 2013 meledak di udara.

"Saya yakin bahwa pesawat yang dicari itu tidak akan ditemukan (puingnya) karena pesawat terbang itu meledak berkeping-keping di atas ketinggian 10 kilometer," kata Habibie di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis (20/3/2014).

Habibie mengatakan, ledakan dapat saja dipicu kebocoran tangki bahan bakar di sayap pesawat. Namun, dia mengatakan penyebab utama ledakan akan diketahui dari kotak hitam pesawat.

"Saya tidak bisa katakan apakah disebabkan dari sayap atau mesin pesawat karena kasihan pihak yang membuat komponen tersebut," ujar Habibie.

Yang jelas, kata dia seperti dikutip dari Tribunnews.com, pesawat saat hilang kontak masih memiliki bahan bakar nyaris penuh karena baru lepas landas.

Habibie memperkirakan pilot tidak sempat menginformasikan ketidakberesan pesawat karena sempitnya waktu antara dia mengetahui ada masalah pada pesawat dan ledakan.

"Namun, dia (pilot) baru melihat deteksi pada monitor, (pesawat) lalu meledak. Mungkin karena itu pilot tak sempat mengontak dan tak sempat melaporkan kondisi SOS," ujar dia.

Informasi bahwa pesawat mengubah arah penerbangan, menurut Habibie kemungkinan adalah karena pilot melihat papan kontrol memunculkan informasi ada yang tak beres pada pesawat.

Meski demikian, imbuh Habibie, kepastian tentang apa yang terjadi dengan pesawat hanya bisa diketahui dari kotak hitam. Karenanya, kotak yang pada kenyataannya berwarna oranye itu harus ditemukan.

Bila analisisnya bahwa pesawat meledak di ketinggian 10 kilometer itu benar, ujar Habibie, kepingan pesawat akan terlempar ke berbagai arah. "Tidak satu arah."

Pesawat ini hilang dengan 239 orang di atasnya, dalam penerbangan dari Kuala Lumpur, Malaysia, menuju Beijing, Kuala Lumpur.

Sebelum Habibie menyampaikan analisisnya ini, pada Kamis pagi Perdana Menteri Australia Tony Abbot mengumumkan pencitraan satelit mendapatkan gambar dua obyek yang diduga bagian dari pesawat yang hilang di bagian selatan Samudra Hindia.

Kedua obyek berada di lokasi berjarak sekitar 2.600 kilometer dari Perth, Australia. Saat ini tim dari Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat masih menyisir lokasi yang terpotret satelit pada 16 Maret 2014 tersebut.

Beragam dugaan dan spekulasi mencuat terkait hilangnya pesawat ini. Dugaan terjadi perubahan arah setelah pesawat hilang kontak tak lebih dari dua jam setelah lepas landas, menguatkan kemungkinan kesengajaan di balik hilangnya pesawat.

Sabotase, terorisme terkait politik lokal Malaysia maupun penumpang pesawat, dan bunuh diri masuk di antara kemungkinan yang pernah disebut sepanjang 14 hari hilangnya pesawat. Pencarian MH370 melibatkan tak kurang dari 26 negara, dan bahkan Presiden Amerika Serikat menyebut pencarian ini turut menjadi prioritas pemerintahnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Palupi Annisa Auliani
Editor : Palupi Annisa Auliani