Senin, 22 Desember 2014

News / Internasional

Polusi Udara China Memburuk, Masker Laris Dibeli

Rabu, 26 Februari 2014 | 22:11 WIB
AFP Akibat polusi udara yang sangat buruk di beberapa kota di China, maka
BEIJING, KOMPAS.com — Penjual masker berbasis internet di China, Rabu (26/2/2014), kehabisan persediaan karena benda itu diborong warga yang khawatir dengan akibat kabut asap yang menutupi kawasan utara China.

Di Beijing, peralatan pembaca kadar PM 2,5 —partikel kecil di udara yang bisa dengan mudah masuk ke dalam paru-paru yang dalam kasus tertentu bisa menimbulkan kematian— menunjukkan angka 501 mikrogram per meter kubik pada Rabu siang.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan kadar PM 2,5 maksimal adalah 25. Jauh di bawah angka yang tercatat di udara kota Beijing saat ini.

Namun, pada Rabu malam kondisi udara di ibu kota China itu membaik dengan kadar PM 2,5 tercatat pada level 100 mikrogram per meter kubik.

Ibu kota China itu sudah memasuki hari keenam situasi waspada "oranye" terkait kabut asap. Warna oranye adalah level tertinggi kedua dalam skala bahaya kabut asap di China.

Dengan kondisi waspada oranye ini, udara kota Beijing terasa mengandung pasir dan jarak pandang anjlok hingga hanya beberapa ratus meter saja.

Akibat kabut asap ini maka berbagai produk pelindung wajah dan pernapasan yang dijual secara online habis dibeli warga.

Dari 29 model masker yang dijual toko asal AS 3M di situs belanja internet Tmall.com, sebanyak 26 model masker ludes terjual. Persediaan masker akan tersedia kembali pada 1 April mendatang.

Sementara itu, toko lain yang juga menjual produknya lewat Tmall.com, Vogmask, mengatakan yang tersisa  di toko itu kini hanya masker untuk anak-anak.

Kekhawatiran dampak buruk asap terhadap kesehatan anak-anak sangat tinggi sehingga sebagian besar sekolah di Beijing tidak memperkenankan murid-muridnya bermain di luar ruang kelas sepanjang hari.

Meski demikian, Pemerintah Kota Beijing belum memerintahkan agar sekolah-sekolah di kota itu meliburkan untuk sementara para siswanya. Salah satu sekolah menengah di Beijing menentang keputusan pemerintah ini dengan tetap meliburkan sekolah karena terlalu tebalnya kabut asap.

Sejumlah kota di China terkena polusi udara yang sangat hebat dalam beberapa tahun belakangan, yang sebagian besar disebabkan emisi yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga batu ara.

Penggunaan batubara, meningkatnya pembangunan ekonomi, serta meningkatnya kepemilikan mobil dituding menjadi biang buruknya kualitas udara di Beijing dan beberapa kota lainnya di China.


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: AFP