Rabu, 3 September 2014

News / Internasional

Pasukan Militer Serbu Demonstran Ukraina, 9 Tewas

Rabu, 19 Februari 2014 | 02:15 WIB
SERGEI SUPINSKY / AFP Para pengunjuk rasa antipemerintah memperbaiki barikade yang mereka bangun di salah satu sudut kota Kiev. Gambar diambil pada Senin (17/2/2014) waktu setempat.

KIEV, KOMPAS.com - Demonstrasi di Kiev, Ukraina, Selasa (18/2/2014), berlangsung rusuh. Para pengunjuk rasa melempari polisi dengan bom molotov, kembang api, dan batu. Kerusuhan ini menewaskan setidaknya sembilan orang.

Unjuk rasa ini masih merupakan bagian dari gelombang protes terhadap Presiden Viktor Yanukovich, yang sudah berlangsung selama 12 pekan. Para pengunjuk rasa mendesak Yanukovich mundur, menyusul gagalnya Ukraina bergabung ke Uni Eropa, yang diduga dipicu intervensi Rusia.

Negara Barat telah memperingatkan Yanukovich untuk tak melakukan tindakan represif terhadap para pengunjuk rasa pro-Uni Eropa dan pemimpin oposisi Vitaly Klitschko ini. Mereka pun mendesak perempuan dan anak-anak meninggalkan alun-alun Maidan di pusat kota Kiev, untuk mengantisipasi terus berjatuhannya korban jiwa.

Juru bicara kepolisian Kiev mengatakan tujuh orang pengunjuk rasa dan dua polisi tewas dalam kerusuhan Selasa. Pasukan militer pendukung Yanukovich menerobos barikade yang dipasang para pengunjuk rasa di sekeliling alun-alun di dekat stadion sepak bola Dyanamo Kiev tersebut.

Pasukan tersebut kemudian menduduki Independence Square, nama lain alun-alun Maidan. Gerakan pasukan ini terjadi hanya dalam hitungan jam setelah Rusia mengucurkan dana 2 miliar dollar AS untuk pemerintah Ukraina, termasuk untuk membiayai upaya menghentikan paksa gelombang unjuk rasa.

Aksi unjuk rasa publik Ukraina digelar sejak November 2013. Yanukovich membatalkan rencana dagang dengan Uni Eropa pada kesempatan terakhir, dengan iming-iming dana talangan dari Rusia untuk menutup utang negara bekas bagian Uni Soviet ini.

Amerika Serikat dan sekutunya di Barat mendesak Yanukovich kembali ke jalur kesepakatan dagang dengan Uni Eropa. Sebaliknya Rusia menyebut desakan itu sebagai campur tangan Barat terhadap Ukraina.

Bentrokan pada Selasa ini berlangsung selama beberapa jam di luar gedung parlemen Ukraina. Anggota parlemen dari kubu oposisi, Lesya Orobets, sebelumnya mengabarkan tiga demonstran tewas dan lebih dari 100 orang terluka.

"Tiga jenazah pendukung kami berada di gedung parlemen. Tujuh lainnya sekarat (karena lukanya)," tulis Orobets di laman Facebook-nya. Sementara dua jenazah lain terbujur di depan stasiun Metro di tenggara alun-alun, berdasarkan pantauan fotografer Reuters.

Adapun juru bicara kepolisian mengatakan dua perwira dan tiga pengunjuk rasa tewas karena luka tembak. Dua pengunjuk rasa lain, kata dia, tewas karena mendapat serangan jantung. Sementara satu pengunjuk rasa lain tewas dalam kebakaran dan satu yang lain tewas karena kecelakaan lalu lintas.

Layanan Keamanan Negara (SBU) Ukraina, dalam pernyataan bersama Kementerian Dalam Negeri Ukraina, menetapkan tenggat pukul 18.00 waktu setempat, atau pukul 23.00 WIB, sebagai batas waktu terakhir bagi pengunjuk rasa untuk mengakhiri unjuk rasa. Menginstilahkan unjuk rasa sebagai gangguan jalanan, SBU mengancam tindakan keras akan dilakukan bila tenggat waktu dilanggar.

"Jika (unjuk rasa) pada pukul 18.00 gangguan belum berakhir, kami berkewajiban memulihkan ketertiban dengan segala cara yang dimungkinkan hukum," ujar pernyataan itu. Kementerian Pertahanan Ukraina pun menyusul mengeluarkan peringatanan kepada pengunjuk rasa untuk segera meninggalkan alun-alun.

Sementara itu, Klitschko, mantan juara dunia tinju kelas berat, mengatakan kepada para pengunjuk rasa untuk menyadari kemungkinan menghadapi kekerasan di Maidan. Klitschko merupakan satu dari tiga pemimpin utama oposisi dalam gelombang unjuk rasa di Ukraina ini.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Palupi Annisa Auliani
Editor : Palupi Annisa Auliani
Sumber: Reuters, Autocar