Rabu, 17 September 2014

News / Internasional

Korban Tewas Topan Haiyan Telah Tercatat 1.774 Orang

Selasa, 12 November 2013 | 15:23 WIB
NOEL CELIS / AFP Seorang ibu menangisi jasad anaknya yang tewas akibat topan Haiyan yang menghantam kota Tacloban, Filipina, sejak Jumat (8/11/2013). Dikhawatirkan topan ini menewaskan sedikitnya 1.200 warga kota itu.
TACLOBAN, KOMPAS.COM — Warga Filipina berjuang untuk menguburkan mayat-mayat dan menyalurkan makanan, air, dan obat-obatan bagi korban selamat pada Selasa (12/11/2013), empat hari setelah topan super Haiyan menimbulkan banyak korban jiwa dan meratakan bangunan yang tak terbilang jumlahnya.

"Saat ini, kami tidak punya cukup air minum," kata Roselda Sumapit kepada CNN di Tacloban, kota berpenduduk lebih dari 200.000 yang diratakan badai. Air yang mereka dapatkan mungkin tidak cukup bersih, katanya. Namun, "Kami tetap meminumnya karena kami butuhkan itu untuk bertahan hidup," tambah dia.

Korban tewas sementara hingga Selasa pagi, sebagaimana dikatakan Duta Besar Filipina untuk Amerika Serikat Jose Lampe Cuisa Jr adalah 1.774. Angka itu diperkirakan akan terus bertambah.

Badai tersebut dilaporkan telah melukai 2.487 orang dan membuat 660.000 orang lainnya mengungsi.

Para pejabat pemerintah mengatakan, mereka takut total korban bencana itu bisa mencapai 10.000 orang. Mayat-mayat, beberapa ditutup ala kadarnya, yang lain dibiarkan terpapar matahari, menimbulkan elemen horor bagi para korban selamat di Tacloban, ibu kota provinsi Pulau Leyte.

"Ada mayat di mana-mana, di dalam air, di jembatan, di pinggir jalan," kata Richard Gordon, ketua Palang Merah Filipina.

Wali Kota Tacloban, Alfred Romualdez, mengatakan, pihak berwenang di sana telah memastikan ada 250 korban tewas dan memperkirakan angka itu akan bertambah. "Banyak mayat yang bercampur dengan puing-puing dan sampah, dan kami juga mendapat laporan tentang sejumlah rumah yang terkubur. Dan kami melihat sejumlah mayat yang mengapung," kata Romualdez.

Para tentara dan organisasi bantuan harus melewati jalan-jalan tertutup untuk memberikan bantuan dan mencari para korban di reruntuhan rumah-rumah yang hancur. Tomoo Hozumi, perwakilan wakilan UNICEF di Filipina, pada Selasa pagi mengatakan makanan, tempat penampungan, air bersih, dan sanitasi dasar sangat kurang. "Situasi di lapangan sangat mengerikan, " katanya kepada CNN.

Pemerintah Filipina pada Selasa melaporkan bahwa 2,5 juta orang membutuhkan bantuan pangan, termasuk hampir 300.000 perempuan hamil atau ibu muda.

"Rumah kami terbongkar. Ayah saya meninggal setelah dihantam puing kayu yang jatuh," kata seorang perempuan Filipina kepada jaringan televisi ANC. "Kami meminta bantuan Anda. Jika memungkinkan, bawakanlah kami makanan. Kami tidak punya apa pun untuk dimakan."

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Egidius Patnistik
Sumber: CNN