Sabtu, 19 April 2014

News / Internasional

Perang Suriah Merugikan? Tidak, Kata Pedagang Senjata

Rabu, 25 September 2013 | 17:09 WIB
JM LOPEZ / AFP Abu Muhammad (39) di toko senjatanya di distrik Fardos, Aleppo. Di tokonya itu dia menyediakan berbagai jenis senjata mulai pedang hingga roket peluncur granat (RPG)
DAMASKUS, KOMPAS.com — Pada saat sebagian besar warga Suriah semakin menderita dan miskin akibat perang berkepanjangan, tidak demikian dengan Abu Mohammad.

Perang justru semakin memakmurkan Abu Mohammad yang profesinya adalah penjual senjata di kota Aleppo. Dia menjual segala macam senjata, mulai dari senapan serbu, roket peluncur granat (RPG), amunisi, hingga pedang.

"Perang adalah bisnis yang hebat," kata Abu Mohammad seraya menyodorkan beberapa buah granat tangan kepada pelanggannya.

"Saya ingin membantu pemberontak karena mereka tidak memiliki banyak senjata atau amunisi," kata pria berusia 39 tahun itu.

Dengan bisnisnya itu, Abu Mohammad rata-rata mengantongi 370 dollar AS sehari atau hampir Rp 400.000, sebuah jumlah yang cukup lumayan pada masa perang seperti ini.

Abu Mohammad membuka toko senjatanya di kawasan Fardos yang dikuasai pemberontak awal tahun ini. Sebelumnya, dia sempat ikut bertempur selama sembilan bulan bersama Tentara Pembebasan Suriah (FSA) sebelum terluka.

Di tokonya, beberapa jenis senjata dipajang, termasuk pistol kaliber 9 milimeter dan senapan serbu paling populer di dunia, Avtomat Kalashnikov 47 alias AK-47. Salah satu AK-47 yang dipajang bahkan berlapis perak.

"Senjata-senjata ini dibuat di Irak dan Rusia. Harganya bervariasi antara 1.500 hingga 2.000 dollar AS, tergantung kualitas," kata dia.

Tak hanya menyediakan senjata dan amunisi, toko Abu Mohammad juga menyediakan seragam militer, sepatu bot, topeng gas, dan radio panggil.

"Hampir semua barang ini saya peroleh dari Turki," tambah dia.

Sementara itu, Mohammad (20), putra Abu Mohammad, mengatakan, dia senang membantu ayahnya menjalankan toko itu.

"Karena saya suka senjata," ujar Mohammad sambil memegang-megang sebuah pistol kaliber 9 milimeter.

Selalu sibuk

JM LOPEZ / AFP Abu Muhammad terlihat tengah mencoba sebuah senapan penembak jitu (sniper). Tak hanya menjual senapan, Abu Muhammad juga membuka jasa reparasi senjata.
Jam di toko Abu Mohammad menunjukkan pukul 16.00 dan toko senjata itu masih sibuk melayani pelanggan.

Salah seorang pelanggan hari itu adalah Mohammad Assi (43), yang bersama beberapa rekan seperjuangannya tengah mencari amunisi untuk senjata mereka.

Sambil menghitung uang, Assi mengatakan, awalnya dia ingin membeli senjata baru. Namun, pembelian senjata baru batal karena modelnya kurang bagus dan harganya terlalu mahal.

Assi akhirnya memutuskan membeli amunisi. Dia menyerahkan uang sebesar 15.000 pound Suriah atau hampir Rp 1,5 juta untuk membeli 150 butir peluru.

"Amunisi sangat langka sehingga menjadi barang paling mahal saat ini," kata Assi.

Sebagai penjual, Abu Mohammad menyadari kondisi keuangan pelanggannya sehingga terkadang dia bersedia menegosiasikan harga.

"Saat pasukan pemberontak mengepung sebuah basis militer, mereka datang ke toko saya dan menukar senjata dengan amunisi," ujar Mohammad.

Sejumlah pelanggan datang ke toko itu untuk mencari produk-produk spesial, termasuk seorang pelanggan yang mencari teropong untuk membantu mencari lokasi para penembak jitu.

Tak hanya menjual, toko Abu Mohammad juga membeli senjata dari masyarakat.

"Sebelum perang pecah, banyak orang mengoleksi senjata atau menyimpannya hingga mereka selesai menjalani wajib militer. Mereka tidak menggunakan senjatanya, jadi mereka membawanya kemari untuk mendapatkan uang," tambah dia.


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: AFP