Sabtu, 22 November 2014

News / Internasional

Paus Fransiskus Telepon Perempuan Hamil di Luar Nikah

Selasa, 10 September 2013 | 15:21 WIB
VINCENZO PINTO / AFP Paus Fransiskus memberkati seorang anak kecil yang datang bersama orangtuanya di Lapangan Basilika Santo Petrus, Vatikan, Selasa (19/3/2013).
VATICAN CITY, KOMPAS.COM — Paus Fransiskus, dari kompleksnya di Vatikan, telah menelepon sendiri tukang sepatunya di Argentina untuk menanyakan perbaikan sepatu, menelepon tukang koran untuk membatalkan langganan, dan menelepon seorang perempuan yang diperkosa seorang polisi lokal untuk menguatkan perempuan itu.

Minggu lalu, Fransiskus menelepon seorang perempuan Italia yang hamil di luar nikah. Kekasih perempuan itu, yang ternyata telah beristri, mendorongnya untuk melakukan aborsi. Anna Romano, nama perempuan itu, gundah. Ia lalu menulis surat kepada Sri Paus tentang masalahnya. Hari Selasa (3/9/2013) lalu, Romano menerima panggilan telepon mengejutkan dari Sri Paus, yang memberinya dukungan dan bahkan mengatakan, dia akan membaptis bayi Romano jika perempuan itu tidak bisa menemukan seorang pastor yang bersedia untuk membaptisnya.

"Halo, Anna," sapa suara di ujung telepon. "Ini Paus Fransiskus."

"Saya ketakutan," kata perempuan berusia 35 tahun itu kepada Il Messaggero, harian di Roma. "Saya mengenali suaranya dan saya langsung tahu bahwa itu benar-benar Sri Paus."

Anna menambahkan, "Kami hanya bertelepon selama beberapa menit, tetapi hati saya dipenuhi sukacita. Ketika kami berbicara, pada saat bersamaan, saya mengusap-usap perut saya. Saya tidak tahu jenis kelamin bayi saya, tetapi jika Paus membaptisnya dan anak itu laki-laki, saya tidak ragu untuk memberinya nama Fransiskus."

Sementara itu, dua hari berturut-turut pada minggu lalu, Vatikan juga harus mambantah dua laporan tentang panggilan telepon yang dikatakan datang dari Paus. Menurut pihak Vatikan, keduanya merupakan kebohongan atau rumor.

Hari Kamis, harian Argentina, Clarin, yang biasanya terinformasikan dengan baik tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Fransiskus, mantan Uskup Agung Buenos Aires, menulis bahwa Paus telah berbicara melalui telepon dengan Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Pembicaraan itu merupakan bagian dari upaya diplomatik Vatikan untuk mencegah serangan militer AS terhadap negara itu.

Namun, Federico Lombardi, juru bicara Vatikan, menegaskan bahwa berita itu "benar-benar tidak berdasar".

Kemudian, hari Jumat, Lombardi harus membantah laporan sebuah surat kabar bahwa Fransiskus telah menelepon seorang pemuda gay di Perancis yang mengaku kesulitan menjadi seorang Katolik yang gay dalam suratnya kepada Paus.

"Saya bisa dengan pasti mambantah bahwa Paus telah menelepon seorang pemuda di Perancis itu," kata Lombardi.

Ketika berbicara kepada Religion News Service, Lombardi mengatakan, sesuai prosedur normal, dirinya tidak akan berkomentar, tidak membenarkan, atau menyangkal apa yang sesungguhnya terjadi setiap ada orang yang mengaku telah mendapat sapaan "Halo, ini Paus Fransiskus " ketika mereka menjawab telepon.

Dia mengatakan bahwa dia sebaliknya hanya akan melakukan intervensi ketika dugaan panggilan telepon dari Fransiskus menyentuh hal-hal yang punya "relevansi internasional", seperti dalam kasus Assad, atau tampaknya bertolak belakang dengan doktrin Katolik, seperti dalam kasus pemuda Perancis yang menegaskan bahwa Paus mengatakan kepadanya, "Homoseksualitas Anda bukan masalah".

"Selalu ada risiko bahwa orang-orang berpura-pura menjadi Paus melalui telepon," kata Lombardi kepada harian Perancis, Le Figaro, ketika ditanya tentang berita itu.

Namun, potensi bahaya itu tampaknya tidak bisa mencegah Fransiskus untuk terus menggunakan ponselnya guna menjangkau dunia di luar dinding Vatikan yang ia rasa dapat mengisolasinya dari umatnya.

Pada musim panas ini, Fransiskus telah menelepon seorang pria Italia yang telah berjuang untuk memaafkan Tuhan setelah saudaranya terbunuh. Paus juga menelepon seorang mahasiswa teknik Italia yang menulis kepadanya tentang ketakutannya bakal tidak mendapat pekerjaan walau ia punya gelar akademis. Keduanya "tertawa dan bercanda" selama delapan menit. Demikian kata pemuda itu. Pada akhir Agustus, Paus menelepon seorang wanita Argentina yang telah diperkosa.

Episode minggu ini bersama Anna Romano tergolong khas. Ketika perempuan itu pada Juni lalu tahu bahwa dia hamil, tunangannya mendorong dia untuk melakukan aborsi, lalu perempuan itu juga tahu bahwa pria tersebut sebenarnya sudah menikah dan punya keluarga.

Pada Juli, dalam keputusasaan, Anna menulis kepada Fransiskus. Anna tahu Paus kadang-kadang merespons secara pribadi kepada ribuan orang yang menulis kepadanya. Pada amplop suratnya, dia hanya menulis, "Bapa Suci Paus Fransiskus, Kota Vatikan, Roma." Tidak ada kode pos atau yang lain. Rupanya begitu saja sudah cukup. Suratnya sampai di tangan Fransiskus.

Ketika teleponnya berdering Selasa lalu, telepon itu berasal dari nomor lokal yang Anna tidak kenal, tetapi dia tetap menjawabnya. Begitu menyadari bahwa orang di seberang sana Paus Fransiskus, Anna sekali lagi menceritakan bagaimana ia merasa "dikhianati, dipermalukan". Paus, kata Anna, berbicara secara informal seperti dengan teman lama. Dalam percakapan mereka, Fransiskus "meyakinkan saya, mengatakan bahwa bayi itu adalah hadiah Tuhan, tanda penyelenggaraan Ilahi. Dia mengatakan saya tidak akan ditinggalkan sendirian."

Saat Anna mengatakan kepada Sri Paus bahwa dia ingin anaknya dibaptis, tetapi takut dia tidak bisa melakukan itu karena dia bercerai dan merupakan seorang ibu tunggal, Paus mengatakan, dia yakin bahwa Anna bisa menemukan seorang pastor yang bersedia. "Namun, jika tidak (ada pastor yang bersedia)," Fransiskus menambahkan, "Anda tahu selalu ada saya."

Editor : Egidius Patnistik
Sumber: Huffington Post