Jumat, 25 April 2014

News / Internasional

Bukti Penggunaan Senjata Kimia di Suriah Dikhawatirkan Telah Dirusak

Senin, 26 Agustus 2013 | 06:55 WIB
- / SHAAM NEWS NETWORK / AFP Para korban serangan udara Pemerintah Berkuasa Suriah, Rabu (21/8/2013) dini hari. Tak terlihat darah pada para korban tewas ini. - / SHAAM NEWS NETWORK / AFP
LONDON, KOMPAS.com — Menteri Luar Negeri Inggris William Hague, Minggu (25/8/2013), mengatakan bahwa bukti serangan kimia oleh rezim Suriah mungkin telah hancur. Meski demikian, respons tegas dari masyarakat internasional harus tetap dilakukan terhadap dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim tersebut kepada rakyatnya sendiri.

"Faktanya adalah bahwa banyak bukti bisa saja dihancurkan oleh pengeboman artileri," kata Hague merujuk serangan lanjutan yang dilaporkan terjadi di wilayah timur Damaskus, menyusul dugaan serangan kimia pada Rabu (21/8/2013).

"Bukti lain bisa terdegradasi selama beberapa hari terakhir dan bukti lainnya bisa saja dirusak," tambah Hague dalam konferensi pers yang diadakan setelah Damaskus memberikan lampu hijau untuk misi pemeriksaan PBB terkait dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar al Assad. Mulai Senin (26/8/2013), para ahli PBB dijadwalkan menyelidiki lokasi serangan.

Hague menyatakan keprihatinan atas banyaknya waktu terbuang untuk tim PBB dapat mengumpulkan bukti konkret yang memadai.
"Kami harus realistis tentang apa yang sekarang tim PBB dapat peroleh," kata dia.

Namun, Hague kembali menyatakan keyakinannya bahwa rezim Assad memang telah menggunakan senjata kimia kepada warganya sendiri. Dia pun mengklaim ada banyak bukti yang mendukung keyakinannya itu, termasuk bahwa rezim Assad-lah yang melakukan serangan tersebut.

Harus ada respons tegas internasional

Dalam kesempatan itu, Hague mengatakan, Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah berbicara melalui telepon pada Sabtu (24/8/2013), membicarakan situasi terakhir Suriah. "Mereka sepakat harus ada tanggapan serius oleh masyarakat internasional," katanya.

"Kita tidak bisa, di abad ke-21, memungkinkan gagasan bahwa senjata kimia dapat digunakan tanpa hukuman, bahwa orang-orang dibunuh dengan cara ini harus ada konsekuensi untuk itu," imbuh Hague. Dia tidak bersedia menguraikan apa respons yang tepat untuk situasi ini, tetapi memastikan bahwa sangat penting ada tindakan diambil sesuai hukum internasional. Namun, tindakan itu pun mensyaratkan dukungan luas internasional.

Kantor Perdana Menteri Inggris, pada hari yang sama, juga melansir bahwa Cameron telah berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel mengenai krisis di Suriah ini. "Perdana Menteri menghubungi Kanselir Merkel untuk membahas bagaimana masyarakat internasional harus merespons serangan senjata kimia Suriah tersebut," ujar pernyataan pers dari Downing Street.

Pernyataan ini berlanjut, "Mereka setuju bahwa ini adalah insiden yang sangat serius dan bahwa hanya ada sedikit keraguan bahwa senjata kimia memang digunakan oleh rezim, terutama mengingat penolakan mereka memberikan akses pada tim PBB segera setelah serangan itu." Berdasarkan pernyataan dari kantor tersebut, kedua pejabat juga sepakat bahwa serangan yang dilakukan Pemerintah Suriah terhadap rakyatnya itu menuntut respons tegas dari masyarakat internasional.

Krisis Suriah yang bergejolak sejak 2011 telah menewaskan lebih dari 100.000 orang berdasarkan data PBB. Dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad, Rabu (21/8/2013), diduga telah menewaskan 13.000 warga negara itu meski laporan resmi hanya menyebutkan ratusan orang menjadi korban dan bukan oleh senjata kimia.


Penulis: Palupi Annisa Auliani
Editor : Palupi Annisa Auliani
Sumber: AFP