Minggu, 21 Desember 2014

News / Internasional

Solidaritas Mesir, Jangan Lupakan Jasa Mesir bagi Indonesia

Sabtu, 17 Agustus 2013 | 06:10 WIB
KOMPAS.com/RAHMAT PATUTIE Ribuan orang dari sejumlah ormas Islam yang tergabung dalam Aksi Solidaritas Peduli Mesir memadati Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (16/8/2013), menuju Markas Perwakilan PBB di Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan orang yang tergabung dalam South East Asia Humanitarian Committee (SEAHUM) berunjuk rasa di depan kantor PBB di Jakarta, sebagai bentuk solidaritas kepedulian atas "pembantaian" di Mesir. Masyarakat juga diingatkan bahwa Ikhwanul Muslimin Mesir sudah banyak berjasa bagi Indonesia.

"Pengakuan kemerdekaan RI secara de facto oleh Mesir pada 22 Maret 1946 atas desakan rakyat mesir bernama Ikhwanul Muslim," tegas Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin, Jumat (16/8/2013). Dari sisi lain, imbuh dia, kasus Mesir harus dilihat sebagai sebuah aksi damai masyarakat sipil yang disikapi oleh pemerintah sementara Mesir dengan kekuatan bersenjata militer.

"Berbagai lapisan masyarakat turun menyuarakan aspirasinya, memprotes pengambilalihan kekuasan hasil demokrasi oleh kekuatan militer. Tak ada senjata, tak ada kekerasan dalam aksi protes ini. Anak- anak, perempuan, manula, tak luput dari sasaran kekerasan (aparat keamanan Mesir)," papar Ahyudin.

Selain itu, tambah Ahyudin, Mesir punya peran penting terhadap pendidikan, termasuk bagi Indonesia. Tak kurang dari 5.000 mahasiswa Indonesia kini masih belajar di Mesir, terutama di Al-Azhar. Bertahun-tahun, kata dia, intelektual Indonesia banyak pula yang mendapatkan pendidikan dari Mesir.

Krisis politik Mesir, tambah Ahyudin, juga berpotensi menjadikan kalangan intelektual yang terlibat dalam aksi damai terhadap penggulingan Presiden Mesir Muhammad Mursi menjadi korban.

"Rabu Berdarah" di Mesir berawal dari upaya paksa pihak keamanan Mesir mengusir demonstran pendukung Presiden terguling Mesir Muhammad Mursi pada Rabu (14/8/2013). Kejadian pengusiran paksa ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa massal.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, setidaknya 638 orang tewas tak kurang dari 4.000 orang luka-luka. Sementara itu, Ikhwanul Muslimin mengatakan, korban tewas sesungguhnya diperkirakan mencapai 2.600 orang. Korban luka pun mencapai 10.000-an orang.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ummi Hadyah Saleh
Editor : Palupi Annisa Auliani