Sabtu, 20 September 2014

News / Internasional

Sejumlah Korban Perang Suriah Dirawat di Israel

Selasa, 23 Juli 2013 | 22:25 WIB
AFP PHOTO / JM LOPEZ Anak-anak pengungsi Suriah berjalan di kamp pengungsi al-Salam Bab di Azas, sebuah kota di utara Suriah, 15 Juli 2013. Sebanyak 5.000 orang dalam sebulan telah mati dalam perang Suriah yang menjadi krisis pengungsi terburuk sejak Genosida Rwanda 1994.
JERUSALEM, KOMPAS.com — Empat warga Suriah, termasuk seorang anak perempuan berusia delapan tahun, dibawa ke sebuah rumah sakit di Israel setelah mereka terluka akibat sebuah pertempuran. Demikian sejumlah sumber menyatakan, Selasa (23/7/2013).

"Kemarin (Senin) malam, seorang anak perempuan berusia delapan tahun dan ibunya yang berusia 48 tahun dirawat karena luka-luka di tangan dan kaki akibat pecahan peluru," kata seorang juru bicara Rumah Sakit Ziv di kota Galilea, Israel.

"Warga Suriah lain, pria berusia 20-an, juga tiba sejam lalu dengan luka di kepala yang cukup parah. Dia kini dirawat di unit penanganan trauma," tambah dia.

Selain ketiga pasien itu, lanjut si juru bicara, seorang gadis remaja berusia 15 tahun tiba pada Selasa pagi di rumah sakit.

Remaja perempuan itu datang dengan kondisi kaki putus dan luka di bagian perempuan.

Semua korban luka itu dibawa ke rumah sakit oleh angkatan darat Israel setelah diizinkan melintasi garis perbatasan gencatan senjata dengan Suriah.

Secara total, sudah 45 warga Suriah dirawat di RS Ziv sejak perang saudara Suriah pecah dua tahun lalu.

"Secara total, saat ini ada sembilan warga Suriah yang dirawat di rumah sakit ini," kata juru bicara itu.

Anak perempuan dan ibunya yang terluka menceritakan kepada para staf rumah sakit, sebuah truk yang mengangkut bahan peledak meledak di dekat kediaman mereka.

Keduanya kemudian dibawa ke sebuah rumah sakit lapangan sebelum dibawa ke Israel untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.

Para korban luka ini dibawa ke Israel melalui pintu perbatasan Quneitra di Dataran Tinggi Golan, yang terbagi antara wilayah Suriah dan Israel sejak Perang Enam Hari 1967.

Israel kemudian menduduki sisa wilayah itu pada 1981. Langkah Israel ini tidak diakui komunitas internasional.

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: AFP