Rabu, 3 September 2014

News / Internasional

Banglades Kirim Tokoh Partai Islam ke Tiang Gantungan

Rabu, 17 Juli 2013 | 17:57 WIB
STR / AFP Ali Ahsan Mohammad Mujahid (65), tokoh senior partai Jamaat-e-Islami, melambaikan tangan dari dalam mobil yang membawanya dari penjara menuju ke pengadilan di ibu kota Dhaka. Mujahid akhirnya dijatuhi hukuman mati karena dianggap terbukti melakukan kejahatan perang dalam perang kemerdekaan Banglades 1971.

DHAKA, KOMPAS.com — Pengadilan Banglades, Rabu (17/7/2013), mengganjar seorang politisi Islam terkemuka dengan hukuman mati terkait kejahatan perang saat perang kemerdekaan dengan Pakistan tahun 1971.

Ali Ahsan Mohammad Mujahid (65), yang merupakan tokoh penting di Partai Jamaat-e-Islami, dituduh melakukan pembunuhan massal dan penyiksaan.

Dia diputuskan terbukti bersalah atas lima dari tujuh dakwaan.

Pengadilan atas Ali Ahsan Mohammad Mujahid dihelat di ibu kota Dhaka dengan pengamanan ketat.

Jaksa penuntut umum mengatakan Mujahid memimpin kelompok milisi yang dituduh menewaskan para pemimpin dan intelektual yang mendukung kemerdekaan.

Sebelumnya pada Senin (15/7/2013), pemimpin spiritual partai Jamaat-e-Islami Ghulam Azam dijatuhi hukuman penjara 90 tahun.

Sehari setelah vonis itu, ribuan orang turun ke jalan memprotes hukuman atas Ghulam Azam, yang dijatuhkan oleh Mahkamah Kejahatan Perang di Dhaka.

Dua orang tewas akibat kekerasan antara pengunjuk rasa dan polisi dalam aksi protes tersebut.

Sempat sembunyi

Mahkamah Kejahatan Perang dibentuk tahun 2010 oleh Pemerintah Banglades yang dipimpin Liga Awami untuk mendakwa mereka yang dianggap sebagai kolaborator tentara Pakistan saat perang kemerdekaan negeri itu.

Namun, pengadilan atas tokoh-tokoh partai Islam ini memicu unjuk rasa dan lebih dari 100 orang tewas sejak maraknya protes Januari tahun ini.

Mujahid merupakan salah seorang pemimpin mahasiswa pada tahun 1971 dan mendukung penyatuan dengan Pakistan.

Sama seperti para tokoh Jamaat-e-Islami lainnya, dia bersembunyi setelah kemerdekaan Banglades dan baru muncul kembali setelah Jenderal Ziaur Rahman berkuasa lewat kudeta militer tahun 1977.

Dia kemudian sempat menjabat Menteri Kesejahteraan Sosial di bawah pemerintahan Partai Nasionalis pada periode 2001-2006.

Dikenal dengan kemampuan orasi dan berorganisasi yang andal, Mujahid dituduh sebagai pemimpin kelompok al-Badr, yang membantu Pakistan mengidentifikasi dan membunuh para pegiat yang mendukung kemerdekaan Banglades.

Versi resmi Pemerintah Dhaka mengatakan, sekitar tiga juta orang tewas dalam masa enam bulan pemisahan Banglades dari Pakistan.

Namun, para peneliti independen memperkirakan jumlah korban dalam perang itu hanya sekitar 500.000 jiwa.


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: BBC Indonesia