Senin, 15 September 2014

News / Internasional

Mana Saja Negara-negara Terkorup di Dunia?

Kamis, 11 Juli 2013 | 10:20 WIB
Transparency International Peta korupsi di dunia.
KOMPAS.com — Jika Anda melakukan praktik suap dalam setahun terakhir, Anda tidak sendirian. Menurut survei terbaru lembaga pemantau korupsi Transparency International, lebih dari seperempat orang di seluruh dunia membayar suap ketika berhadapan dengan pelayanan publik dalam 12 bulan terakhir.

Barometer Korupsi Global 2013 Transparency International didasarkan pada wawancara dengan 114.270 orang di 107 negara. Lembaga itu menggunakan survei opini publik untuk memperkirakan prevalensi korupsi di lembaga-lembaga nasional di seluruh dunia.

Laporan itu menyimpulkan, sebagaimana dilaporkan Huffington Post, Rabu (10/7/2013), meskipun suap merupakan masalah global, praktik itu tidak merata di seluruh dunia.

Berdasarkan laporan tersebut, kurang dari 5 persen responden di 16 negara mengaku memberikan suap, sementara lebih dari setengah orang-orang yang disurvei di 14 negara lain melaporkan bahwa mereka membayar suap kepada para pejabat publik. Dari 14 negara, 11 berada di Afrika. Negara-negara Afrika itu antara lain Libya pasca-Khadafy, dengan 62 persen responden melaporkan mereka telah membayar suap; dan Liberia, yang punya angka menakjubkan, yaitu 75 persen responden telah menyogok para pejabat. Di Kenya, yang para legislatornya baru-baru ini berupaya untuk menaikkan gaji mereka hingga 84 kali lipat dari rata-rata gaji orang Kenya, 70 persen responden mengatakan bahwa mereka telah memberi suap untuk para pejabat.

Denmark, Finlandia, Jepang, dan Australia termasuk negara-negara yang tergolong bersih dari korupsi. Hanya 1 persen responden di masing-masing negara itu yang mengaku telah membayar suap untuk pejabat publik.

Di Amerika Serikat, secara rata-rata 1 dalam 14 orang mengatakan bahwa mereka membayar suap kepada pejabat publik. Dari mereka yang membayar itu, 7 persen mengatakan mereka menyogok polisi, 11 persen mengatakan mereka menyuap penyidik, dan 15 persen mengatakan mereka menyuap hakim. Warga Amerika juga mengatakan melihat partai politik sebagai lembaga publik terkorup, dengan 76 persen responden menyatakan bahwa partai politik dicemari korupsi.

Di 36 negara, termasuk Indonesia, para responden menyebutkan bahwa kepolisian merupakan lembaga yang paling korup.

Data suap dari 12 negara lain tidak dapat dimasukkan dalam survei itu karena kekhawatiran terkait validitas data. Beberapa negara dalam kelompok ini sudah terkenal punya masalah korupsi, termasuk Rusia, Albania, dan Brasil. Di negara-negara tersebut, layanan publik yang buruk dan pajak yang tinggi telah mendorong protes massal pada Juni lalu. (Lihat peta di atas untuk mendapat gambaran tentang praktik korupsi di seluruh dunia.)

Editor : Egidius Patnistik
Sumber: Huffington Post