Jumat, 29 Agustus 2014

News / Internasional

Mursi, Ikhwanul Muslimin dan Harapan Rakyat Mesir

Kamis, 4 Juli 2013 | 15:56 WIB
AP PHOTO / KHALIL HAMRA Presiden Muhammad Mursi (tengah) membuka jaketnya untuk menunjukkan bahwa dia tidak memakai rompi pelindung saat ia memberikan pidato di Alun-alun Tahrir di Kairo, Mesir, 29 Juni 2013.

Terkait

KAIRO, KOMPAS.COM — Setahun setelah Muhammad Mursi terpilih sebagai presiden dalam pemilihan umum pertama Mesir, jutaan masyarakat negara itu turun ke jalan untuk menuntut Mursi mundur. Keluhan para demonstran antara lain terkait tuduhan adanya upaya agar birokrasi pemerintah diisi orang Ikhwanul Muslimin. Mursi adalah anggota kelompok itu.

Apa itu Ikhwanul Muslimin? Ikhwanul merupakan kelompok agama dan politik yang didirikan atas keyakinan bahwa Islam bukan hanya agama, melainkan juga cara hidup. Kelompok tersebut menganjurkan untuk menjauhi sekularisme dan kembali ke aturan Al Quran sebagai dasar bagi kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara yang sejahtera.

Ikhwanul secara resmi sebenarnya menolak penggunaan cara-cara kekerasan dalam pencapaian tujuannya. Namun, cabang-cabang Ikhwanul Muslimin pernah dikaitkan dengan sejumlah serangan yang terjadi di masa lalu. Para pengecam pun menyalahkan kelompok tersebut sebagai pemicu berbagai masalah di tempat lain di Timur Tengah. Banyak yang menganggap perkumpulan itu sebagai cikal bakal dari militan Islamis modern.

Ikhwanul Muslimin telah menjadi bagian dari kancah politik di Mesir selama lebih dari 80 tahun. Kelompok itu dibentuk Hassan al-Banna tahun 1928. Al-Banna dan para pengikutnya awalnya dipersatukan oleh keinginan untuk mengusir Inggris dan menghilangkan pengaruh Barat yang "merusak". Slogan asli Ikhwanul Muslimin adalah "Islam merupakan solusi".

Pada tahun-tahun awal berdirinya, kelompok itu berkonsentrasi pada pelayanan agama, pendidikan, dan sosial. Namun semakin lama Ikhwanul Muslimin pindah ke ranah politik dan sering kali melakukan protes terhadap Pemerintah Mesir. Tahun 1940-an, sebuah kelompok sayap bersenjata Ikhwanul Muslimin disalahkan atas serangkaian tindak kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap Perdana Menteri Mesir Mahmud Fahmi, tahun 1948, tak lama setelah ia memerintahkan pembubaran Ikhwanul Muslimin.

Al-Banna sendiri dibunuh tak lama setelah itu. Para pendukungnya mengklaim bahwa ia dibunuh atas keinginan pemerintah.

Kelompok itu bergerak di bawah tanah pada tahun 1950-an, dan selama beberapa dekade berada di bawah penindasan para penguasa Mesir, menyebabkan banyak anggotanya melarikan diri ke luar negeri, sementara yang lain dipenjara.

Tahun 1980-an, kelompok itu menyatakan mengingkari kekerasan dan berusaha untuk bergabung dengan proses politik arus utama, tetapi dilarang oleh rezim mantan Presiden Mesir, Hosni Mubarak. Meski demikian, Ikhwanul tumbuh sepanjang dekade itu, sebagai bagian dari pertumbuhan di dalam Islam. Invasi pimpinan AS ke Irak tahun 2003 memicu lonjakan dalam keanggotaannya.

Tahun 2005, kelompok itu memenangkan 20 persen kursi dalam pemilihan parlemen Mesir. Mubarak lalu menindak Ikhwanul, memenjarakan ratusan anggotanya.

Oposisi tertua dan terbesar

Ikhwanul Muslimin adalah kelompok oposisi tertua dan terbesar di Mesir. Ikhwanul mendapat dukungan luas di kalangan kelas menengah Mesir, dan anggotanya mengontrol banyak organisasi profesional negara itu. Sampai tahun 2011, Ikhwanul Muslimin dianggap ilegal karena undang-undang Mesir melarang semua partai berdasarkan agama. Namun, pada Desember tahun itu, partai politik dari Ikhwanul Muslimin yang dikenal dengan nama Partai Kebebasan dan Keadilan mendominasi dan memenangkan sekitar setengah kursi yang diperebutkan di parlemen.

Kelompok itu awalnya tidak mengajukan calon presiden. Namun akhirnya Muhammad Mursi tampil dan terpilih sebagai presiden dalam pemilihan secara demokratis pertama di Mesir. Mursi berkuasa pada 30 Juni 2012 tetapi sejak itu pula popularitasnya terjerembab.

Pemerintahannya gagal menjaga ketertiban saat ekonomi ambruk dan kejahatan melonjak, termasuk serangkaian serangan seksual terbuka terhadap perempuan di jalan-jalan Mesir. Kekacauan itu pun mengusir banyak wisatawan dan investor dari negara itu.

Ben Wedeman dari CNN mengatakan, tugas untuk memerintah Mesir saat ini merupakan salah satu pekerjaan tersulit di bumi. Sejak Ikhwanul mengambil alih, mereka menemukan bahwa banyak birokrasi menentang mereka terkait ketakutan bahwa kelompok itu akan memasukkan para pendukung mereka di setiap level pemerintahan. "Jika Anda Presiden Mesir dan Anda tidak dapat mempercayai polisi serta tentara Anda, serta Anda tahu birokrasi tidak menyukai Anda, maka Anda akan memiliki pekerjaan yang sangat sulit untuk dijalankan," kata Wedeman.

Kolumnis Frida Ghitis mengatakan, salah satu hal paling mencolok dari protes 2013 terhadap Mursi adalah intesitas kemarahan terhadap Ikhwanul Muslimin. Dia menunjukkan bahwa pada Juni 2013, semakin banyak orang menandatangani petisi Tamarod (atau pemberontak) guna menarik dukungan dari Mursi ketimbang memilih dia dalam pemilu. Hal itu menunjukkan bahwa ketidakpuasan telah meluas, bukan hanya pada kalangan liberal atau para mantan pendukung rezim Mubarak. Ghitis berpendapat, kredibilitas Ikhwanul dan Mursi memburuk saat mereka "berulang kali melanggar janji mereka".

"Pada gelombang pertama pemilu, banyak pemilih berpikir kalau mereka Muslim, maka mereka harus memilih Ikhwanul Muslimin. Mereka berpikir sekuler itu identik dengan ateis. Sekarang mereka mengetahui betapa agama dapat dimanfaatkan untuk kekuasaan," kata Ghitis. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Egidius Patnistik
Sumber: CNN.com