Senin, 24 November 2014

News / Internasional

Dua Tahun Perang, Kerugian Suriah Tembus Rp 150 Triliun

Senin, 1 Juli 2013 | 16:36 WIB
JOSEPH EID / AFP Prajurit Angkatan Darat Suriah menguasi desa Dumayna Barat, sekitar tujuh kilometer sebelah utara dari kota Qusayr di Provinsi Homs, yang dikuasai pemberontak. Pasukan pemerintah menguasai tiga desa di sekitar Qusayr sehingga memutus jalur pasokan logistik untuk para pemberontak di dalam kota.
DAMASKUS, KOMPAS.com — Perang saudara yang sudah terjadi lebih dari dua tahun di Suriah, telah menghancurkan 9.000 bangunan milik pemerintah dan mengakibatkan kerugian setidaknya 15 miliar dollar AS atau hampir Rp 150 triliun di sektor publik.

Dalam pernyataan yang dimuat sejumlah harian terbitan Suriah, Menteri Administrasi Suriah Omar Al Ibrahim Ghalaounji mengatakan, kerugian sebesar itu dihitung sejak Maret 2011 saat pemberontakan oposisi dimulai.

Sementara itu, mantan Menteri Perencanaan Suriah Abdullah al-Dardari, yang memimpin sebuah tim penghitung biaya rekonstruksi pascaperang, memperkirakan kerugian total Suriah akibat perang mencapai 60-80 miliar dollar AS.

Kepada Associated Press, Abdullah mengatakan, perekonomian Suriah menyusut 35 persen. Sebelum perang, perekonomian negeri ini tumbuh enam persen setahun.

Akibat perang, hampir 40 persen GDP Suriah hilang, dan cadangan uang negara di luar negeri hampir habis.

Selain itu, angka pengangguran Suriah juga meningkat yakni mencapai 2,5 juta orang dibandingkan sebelum perang yang hanya mencapai 500.000 orang.

Nilai tukar mata uang Suriah juga turun drastis dan mencatat rekor terendah bulan ini menyusul keputusan AS mempersenjatai kelompok pemberontak.

Satu dollar AS kini bernilai 200 poundsterling Suriah. Padahal sebelum perang, satu dollar AS setara dengan 47 poundsterling Suriah.

Saat konflik pecah, Pemerintah Suriah memiliki cadangan keuangan sebesar 17 miliar dollar dalam bentuk mata uang asing.

Diyakini, cadangan uang itu menyusut akibat dua pilar utama ekonomi Suriah, yaitu ekspor minyak mentah dan turisme, merosot tajam.

Ekspor minyak menghasilkan delapan juta dollar sehari. Menurut data terakhir, sepanjang 2010, sektor perminyakan ini menyumbang 8 miliar dollar AS ke kas negara.

Pemerintah Suriah memang tidak mengungkap berapa banyak cadangan uang mereka saat ini. Namun, organisasi Unit Intelijen Ekonomi yang berbasis di London, Inggris, memperkirakan uang "tabungan" Suriah kini tinggal 4,5 miliar dollar AS.

Berbagai kemerosotan perekonomian ini disusul merosotnya nilai mata uang poundsterling Suriah yang mengakibatkan penderitaan tambahan bagi rakyat negeri itu.

Harga berbagai kebutuhan pokok melejit naik sehingga semakin menekan kehidupan warga Suriah yang sudah menderita akibat perang.

Harga susu bubuk di Suriah, sebelum perang hanya 60 pound, sementara saat ini melonjak hingga 160 pound. Harga 18 liter minyak zaitun dua tahun lalu sebesar 3.600 pound, kini melonjak hingga 140.000 pound.

Sementara daging yang dulunya hanya 1.300 pound per kilogram, saat ini bisa ditebus dengan harga lebih mahal, yakni tiga kali lipatnya.

Untuk memberi kompensasi kepada rakyat, Presiden Bashar al-Assad menerbitkan dekrit pekan lalu, yaitu menaikkan gaji pegawai negeri dan uang pensiun. Namun, hal itu belum menghentikan keluhan warga.

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: Associated Press