Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

Eks Jenderal AS Bocorkan Informasi Serangan Siber terhadap Iran

Jumat, 28 Juni 2013 | 20:18 WIB
AP Jenderal (Purn) James Cartwright.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Seorang pensiunan jenderal AS menjalani pemeriksaan karena diduga membocorkan informasi terkait serangan siber rahasia terhadap fasilitas nuklir Iran.

Jenderal James "Hoss" Cartwright, mantan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata AS, menurut NBC News dan The Washington Post, menjadi target pemeriksaan ini.

Seorang "target" biasanya adalah seseorang yang sudah hampir pasti akan mendapatkan dakwaan karena jaksa biasanya sudah memiliki bukti-bukti kuat terkait si "target".

Penyelidikan terkait bocornya informasi serangan siber terhadap Iran adalah satu dari sejumlah penyelidikan kebocoran informasi nasional yang dilakukan pemerintahan Obama.

Pada Juni 2012, harian The New York Times melaporkan bahwa Jenderal Cartwright adalah salah seorang pemain penting dalam operasi serangan siber dengan sanksi "Olympic Games" yang sudah dimulai di masa pemerintahan Presiden George W Bush.

Bush dikabarkan menganjurkan Presiden Barack Obama untuk melanjutkan operasi "Olympic Games".

Masih menurut The New York Times, Presiden Obama kemudian memerintahkan serangan siber itu diperkuat. Pada 2010, sebuah serangan dengan menggunakan virus komputer Stuxnet untuk sementara mampu melumpuhkan 1.000 sentrifugal yang digunakan Iran untuk proses pengayaan nuklir.

Laporan The New York Times ini kemudian membuat para politisi Kongres mendesak digelarnya penyelidikan terkait pembocor informasi rahasia itu. Dan, Obama menegaskan, dia tidak bisa memberi toleransi untuk kebocoran semacam itu.

Para politisi Partai Republik mengatakan menuding para pejabat senior pemerintah yang membocorkan informasi itu untuk mendukung program keamanan nasional dalam kampanye presiden 2012.

The New York Times menambahkan, Jenderal Cartwright adalah salah seorang pemain kunci yang memberitahu Obama dan Wapres Joe Biden bahwa Stuxnet secara tak sengaja diketahui publik karena lolos ke internet.

Setelah kekacauan itu, para pejabat senior menggelar pertemuan untuk memutuskan apakah program serangan siber ini sudah bocor. Setelah mendengar rekomendasi para penasihat senior, Presiden Obama memutuskan program Stuxnet dilanjutkan.
Editor : Ervan Hardoko
Sumber: Sky News,
TAG: