Sabtu, 1 November 2014

News / Internasional

Nikaragua Ajak RI Terlibat Pembangunan Terusan Baru

Rabu, 19 Juni 2013 | 07:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.COM - Pemerintah Nikaragua mengajak kalangan swasta Indonesia ikut terlibat dalam megaproyek pembangunan terusan baru di Nikaragua. Terusan itu disebut-sebut akan menyaingi Terusan Panama dalam menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik.

Ajakan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Nikaragua Samuel Santos Lopez, Selasa (18/6), seusai bertemu Menlu Marty Natalegawa di Jakarta. Kunjungan itu sekaligus menandai 25 tahun hubungan kedua negara.

”Saat ini Presiden Daniel Ortega telah memerintahkan proses studi kelayakan di berbagai bidang, seperti terkait lingkungan hidup, bisnis, dan kesem- patan ekonomi dari pembangunan terusan ini,” ujar Santos Lopez.

Dari studi kelayakan itu nantinya baru akan diketahui sektor apa saja yang proses pembangunannya bisa memungkinkan kontribusi dari negara lain, termasuk Indonesia.

Yang jelas, kata Samuel, megaproyek itu tak hanya akan membangun terusan, tetapi juga sejumlah infrastruktur pendukung, seperti pelabuhan, kawasan berikat, jalur minyak dan gas bumi, serta bandar udara.

Meski demikian, Santos Lopez tidak menjelaskan soal keterlibatan pihak China dalam proses megaproyek tersebut dan kemungkinan reaksi dari AS.

Seperti diwartakan, konsesi proyek senilai 40 miliar dolar AS (Rp 395 triliun) itu diberikan kepada perusahaan China, HK Nicaragua Canal Development Investment Co Ltd (HKND), selama 50 tahun.

Bebas visa

Marty menambahkan, dalam pertemuan itu, kedua pihak juga menandatangani kesepakatan bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas kedua negara serta pembentukan Forum Konsultasi Bilateral RI-Nikaragua.

”Tema (pembicaraan) saat ini pasti tentang peluang di kedua negara, baik terkait kerja sama seputar peningkatan kapasitas usaha kecil dan menengah Nikaragua oleh Indonesia, maupun yang terkait proyek besar macam pembangunan terusan itu,” ujar Marty.

Data Kementerian Luar Negeri RI menunjukkan, total nilai perdagangan di antara kedua negara mencapai 21,7 juta dollar AS pada tahun 2012, naik dari 9,2 juta dollar AS pada tahun 2008. Produk ekspor andalan Indonesia, antara lain, minyak nabati, tembakau dan produk tembakau, kertas, kendaraan, serta peralatan elektronik. (DWA)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: