Sabtu, 30 Agustus 2014

News / Internasional

Hassan Rowhani, Presiden Baru Iran

Minggu, 16 Juni 2013 | 01:12 WIB

TEHERAN, KOMPAS.com - Ulama moderat Hassan Rowhani memenangkan pemilihan presiden Iran tanpa perlu pemungutan suara putaran kedua.

Menteri Dalam Negeri Iran Mostafa Mohammad-Najjar, Sabtu (15/6/2013), mengatakan pemilihan presiden ini diikuti 72 persen dari 50 juta orang yang memiliki hak suara. Dan, Rowhani meraih 18,6 juta suara atau sekitar 50,71 persen.

Rowhani unggul jauh dari kandidat yang menempati posisi kedua Mohammad Baqer Qalibaf yang hanya meraup 6,077 juta suara atau 16,56 persen.

Dengan kemenangan Rowhani maka kemungkinan besar ketegangan hubungan Iran dengan Barat tidak akan banyak berubah. Selain itu, di tangan Rowhani kebijakan Iran atas program nuklir dan dukungan untuk Suriah juga diyakini tidak akan berubah.

Yang jelas, Rowhani akan mewarisi perekonomian negara yang terpuruk akibat sanksi Uni Eropa dan Amerika Serikat yang mentargetkan sektor perminyakan dan perbankan Iran.

Kemenangan Rowhani ini dinilai banyak pengamat sangat terbantu dengan mundurnya kandidat kelompok reformis Mohammed Reza Aref.

Reza Aref mundur setelah mendapat anjuran dari mantan presiden Mohammad Khatami, yang kemudian lebih condong mendukung Rowhani.

Pada 2003, Rowhani adalah perunding utama masalah nuklir di masa pemerintahan Khatami. Saat itu, Iran sepakat untuk menghentikan sementara program pengayaan uraniumnya.

Program pengayaan uranium dibuka kembali pada 2005 saat Mahmoud Ahmadinejad terpilih menjadi presiden .

Di masa kampanye, Rowhani menjanjikan untuk mengurangi sanksi terhadap Iran, yang memicu buruknya perekonomian.

Inflasi Iran mencapai 30 persen dan mata uang rial kehilangan 70 persen nilai tukarnya, dan jumlah pengangguran bertambah.

Perbaikan ekonomi inilah yang menjadi pekerjaan terberat Rowhani sebagai presiden baru.

"Kami berharap presiden baru bisa meningkatkan ekonomi menjadi lebih baik," kata seorang warga Iran, Farshid Hassad Zade.

 


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: