Senin, 22 September 2014

News /

KRISIS SURIAH

Oposisi Buka Front Baru

Senin, 3 Juni 2013 | 02:38 WIB

Kairo, Kompas - Kubu oposisi Suriah berusaha meringankan tekanan terhadap kota Al-Qusair yang terkepung pasukan pemerintah dan milisi Hezbollah selama hampir dua pekan ini. Pasukan oposisi, Minggu (2/6), membuka front pertempuran baru di Al-Rastan, utara Al-Qusair, untuk mengurangi beban pasukan oposisi di Al-Qusair. Pasukan oposisi juga mendalangi peledakan bom mobil dekat kantor polisi di Damaskus yang menewaskan delapan polisi.

Stasiun televisi Al-Jazeera, mengutip organisasi Pemantau HAM Suriah (SOHR), memberitakan, pertempuran sengit antara pasukan oposisi melawan pasukan pemerintah dan milisi Hezbollah terus berkobar di Al-Qusair dan desa-desa di sekitarnya.

Pasukan pemerintah dan milisi Hezbollah gagal menguasai Al-Qusair sepenuhnya karena dipertahankan mati-matian oleh pasukan oposisi. Pasukan oposisi di Al-Qusair ini mendapat bantuan dari Brigade Tauhid, pasukan oposisi dari kota Aleppo di utara.

Adapun pasukan pemerintah mendapat dukungan 15 tank tambahan dan sejumlah rudal pintar yang dipandu laser untuk menekan pasukan oposisi di kota Al-Qusair.

Koalisi Nasional Suriah (NC), payung utama kubu oposisi, dalam keterangan persnya, Sabtu, menegaskan, pasukan oposisi di Al-Qusair sepakat menegakkan satu kata, satu komando, dan satu tujuan untuk membebaskan Suriah dari serangan asing.

Dilarang masuk

Pertempuran di Al-Qusair belum memperlihatkan tanda akan berakhir sehingga Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon menyerukan kedua pihak yang bertikai agar mengizinkan warga sipil meninggalkan kota itu. Komite Internasional Palang Merah (ICRC) juga meminta relawannya bisa masuk kota itu setiap saat.

Ketua Komisi HAM PBB Navi Pillay dan Koordinator Urusan Kemanusiaan PBB Valerie Amos juga mengungkapkan kecemasan mereka atas nasib warga sipil yang terkepung di kota Al-Qusair.

Namun, Pemerintah Suriah mengatakan, relawan ICRC tak bisa masuk Al-Qusair hingga pertempuran berhenti. Hal itu ditegaskan Menteri Luar Negeri Suriah Palang Walid al-Moallem saat dihubungi Ban Ki-moon.

Sementara itu, Rusia hari Sabtu kembali menggagalkan upaya Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi berisi kecemasan PBB atas memburuknya situasi di Al-Qusair.

Inggris sebagai ketua bergilir DK PBB membagikan rancangan resolusi terkait Al-Qusair. Rancangan resolusi itu antara lain berisi pasukan pemerintah harus menjaga keselamatan warga sipil, dan mengizinkan tim kemanusiaan netral, termasuk PBB, masuk kota Al-Qusair untuk memberi bantuan kemanusiaan dan medis terhadap warga sipil.

Namun, Rusia berhasil menggagalkan upaya voting atas rancangan resolusi tersebut. Gagalnya rancangan resolusi DK PBB terkait Al-Qusair itu mempertajam perbedaan pendapat antara Rusia dan Barat tentang cara menangani konflik Suriah, yang selama lebih dari dua tahun merenggut lebih dari 80.000 jiwa.

Gagalnya rancangan resolusi DK PBB itu juga memukul upaya digelarnya konferensi damai tentang Suriah di Geneva yang digagas bersama AS-Rusia. (mth)


Editor :