Sabtu, 20 Desember 2014

News / Internasional

KRIMINALITAS

Perempuan Korban Air Keras, Ikut Kuis demi Biaya Operasi

Rabu, 22 Mei 2013 | 21:10 WIB

NEW DELHI, KOMPAS.com — Sonali Mukherjee (28), tak akan melupakan malam naas saat dia berusia 17 tahun. Saat itu, dua laki-laki menerobos masuk ke kamar tidurnya, lalu menyiram wajahnya dengan air keras.

Akibatnya, 95 persen wajah perempuan itu rusak. Akibat lain, ayahnya terpaksa menjual tanah warisan dan semua perhiasan ibunya untuk biaya operasi wajah sang putri.

"Ayah saya menghabiskan semua uangnya. Dia menjual tanah kami, perhiasan, dan semua miliknya untuk pengobatan saya dan berharap ada keadilan," kenang Sonali.

"Pada akhirnya kami kehilangan semuanya dan para penjahat itu masih bebas di luar sana," tambah Sonali seperti dikutip CNN.

Dengan semua uang orangtuanya, Sonali sudah melakukan 26 kali operasi restorasi wajah. Namun, Sonali masih harus menjalani operasi ke-27. Sayangnya, orangtua Sonali kini sudah benar-benar kehabisan uang.

Akhirnya, Sonali memutuskan untuk mengikuti kuis dengan hadiah terbesar di India, "Who Wants to Be a Millionaire" akhir tahun lalu.

Keberuntungan memayungi Sonali yang akhirnya memenangi hadiah utama kuis sebesar 30.000 poundsterling atau hampir Rp 450 juta yang akan digunakan untuk melanjutkan pemulihan wajahnya itu.

Namun, Sonali mengatakan, keputusannya untuk tampil di televisi nasional mengikuti kuis bukan sekadar didorong kebutuhannya akan uang.

"Saya ikut kuis ini dengan dua alasan. Pertama saya memang membutuhkan uang. Kedua, saya ingin dunia tahu apa yang harus dialami seorang korban serangan air keras di negeri ini," kata Sonali.

Sejak menjadi korban serangan air keras, keluarga Sonali tidak menerima bantuan apa pun dari negara untuk pengobatan wajahnya.

Demi mendapatkan bantuan negara, awal tahun ini Sonali sempat menulis surat kepada Pemerintah India dan mengancam akan bunuh diri jika negara tidak memberikan bantuan.

Rasa putus asa yang dialami Sonali dan keluarganya sangatlah wajar. Sebelum mendapat serangan air keras, Sonali adalah pelajar berbakat di kota kelahirannya Dhanbad di wilayah Jharkand, India timur.

Meski telah menjalani perawatan, Sonali—yang kini tinggal di Delhi—kini harus hidup dengan mata separuh buta dan separuh tuli akibat luka-luka yang dideritanya.

Para dokter yang merawatnya mengatakan luka Sonali sangat parah hingga dia kehilangan telinga, kelopak mata, dan kulit kepala.

Selain meninggalkan luka fisik, serangan air keras itu meninggalkan trauma mendalam terhadap keluarga Sonali.

Ibunda Sonali hingga saat ini masih berjuang untuk menerima musibah ini. Sementara itu, kakek Sonali meninggal karena serangan jantung.

"Sebagai kepala keluarga, saya tak bisa terlihat rapuh. Ayah saya meninggal dunia karena shock, sementara istri saya menderita depresi," kata Dhandi Das Mukherjee, ayah Sonali.

Terlepas dari luka-lukanya yang sangat parah, Sonali masih terus berkampanye untuk mengupayakan hukuman lebih berat untuk para pelaku serangan air keras.

Tampaknya perjuangan Sonali tidak sia-sia. Tahun ini, Pemerintah India mengamandemen undang-undang pidana, yang menjatuhkan hukuman lebih berat untuk para pelaku kekerasan terhadap perempuan.

Serangan air keras kini dianggap sebagai kejahatan tersendiri dan pelakunya terancam hukuman antara 10 tahun penjara hingga seumur hidup.

 


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: