Selasa, 25 November 2014

News / Internasional

Membantu Para Janda agar Mandiri Ekonomi

Senin, 13 Mei 2013 | 07:26 WIB

BRISBANE, KOMPAS.com - Ketika Jody Thomson menjadi janda di usia 37 tahun, mantan pemilik bisnis kecil-kecilan ini panik mengenai keadaan keuangan keluarganya. Karenanya, dia kadang melarang kedua putrinya yang masih kecil membeli es krim setelah pulang sekolah.

"Bagaimana saya harus membiayai mereka, menyediakan pendidikan sendirian," kata Thomson mengingat kembali. Meskipun sebenarnya Thompson tahu bagaimana mengelola keuangan dan keluarganya terbilang mampu, dia merasa "kewalahan".

"Saya ketakutan, saya membuat anggaran rumah tangga yang ketat selama setahun. Tidak saja, anak-anak sudah kehilangan ayah mereka, namun kehidupan mereka berubah drastis. Mereka bahkan tidak boleh membeli es krim sehabis sekolah," kata Thomson.

Menurut Thomson, sebenarnya anggaran ketat itu tidaklah diperlukan, namun itu kebanyakan terjadi oleh banyak wanita yang menjadi janda, dan harus mengurusi sendiri rumah tangga mereka. Thomson yang kehilangan suaminya karena tumor otak, sekarang berusia 51 tahun, dan menjadi terapis seni yang membantu para keluarga yang memiliki anggota keluarga yang terkena kanker.

Menurut laporan Brisbane Times, dia juga menjadi sukarelawan guna membantu para janda sebagai bagian dari Program Berencana Ke Depan Buat Janda dan Wanita, yang diluncurkan Sabtu (11/5/2013) di Sydney.

Ini merupakan program pertama di Australia yang memberikan nasehat keuangan bagi para janda ataupun para wanita yang merawat suami mereka yang sedang sekarat.

Menurut penelitian dari Yayasan Sosial LifeCircle dan Sydney Community, para wanita setengah baya yang ditinggal pasangan mereka lebih merasa khawatir dibandingkan pria akan kemiskinan, tidak cukup memiliki dana pensiun dan mengalami diskriminasi karena usia.

Menurut data statistik di Australia, di usia 65 tahun ke atas, 25 persen adalah janda dibandingkan 11 persen duda. Rata-rata pria meninggal 4,5 tahun lebih cepat dibandingkan wanita. Direktur eksekutif LifeCircle Brynnie Goodwill mengatakan banyak wanita di Australia khususnya mereka yang lahir di tahun 1930-an -1940-an tidak tahu bagaimana mengurus keuangan keluarga, atau bahkan tidak pernah menulis cek pembayaran.

"Bagi banyak wanita, ketika pasangan mereka meninggal, masalahnya bertambah besar karena mereka tidak siap sama sekali soal keuangan." kata Goodwin. Bahkan bagi mereka yang sudah melek keuangan mengurusi masalah keuangan dan hukum setelah suami meninggal bukan hal yang mudah.

Meskipun Thompson baru berusia 37 tahun ketika suaminya meninggal, dia merasa program seperti ini sudah ada waktu itu, dia akan mendapat banyak manfaat. Thompson menyarankan kepada para wanita sekarang ini untuk ikut membicarakan masalah keuangan dengan pasangan mereka, jauh-jauh hari sebelum terjadi apapun.

"Saat berjuang melawan kanker otak, suami saya menolak membicarakan masalah keuangan. Kami memang yakin dia akan bisa bertahan. Namun setelah meninggal, saya berusaha mencari ke sana kemari di dalam rumah, surat mengenai keadaan keuangan kami, tapi ternyata tidak ada." kata Thompson.


Penulis: L Sastra Wijaya
Editor : Robert Adhi Ksp