Sabtu, 30 Agustus 2014

News / Internasional

Ekspor Impor

Menteri Australia ke Jakarta Bicarakan Impor Sapi

Minggu, 12 Mei 2013 | 11:42 WIB

BRISBANE, KOMPAS.com - Penurunan kuota impor sapi dari Australia yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, tampaknya semakin berdampak buruk bagi industri ternak di Australia.

Dua menteri pertanian dari negara bagian Queensland dan Northern Territory berkunjung ke Jakarta hari Minggu (12/5/2013), guna mengyakinkan pemerintah Indonesia untuk menaikkan kuota impor.

Menteri Pertanian Queensland John McVeigh, dan Menteri Industri Utama dari Northern Territory Westra van Holthe, akan melakukan kunjungan ke berbagai tempat seperti rumah pemotongan hewan, pasar tradisional, dan supermarket, guna melihat bagaimana proses penjualan sapi di Indonesia," demikian laporan news.com. au, Minggu (12/5/2013).

Tahun 2011, pemerintah Federal Australia melarang eskpor sapi ke Indonesia, menyusul adanya laporan tata cara pemotongan hewan yang dianggap "kejam".  Dengan Indonesia adalah pasar ekspor daging sapi terbesar Australia, keputusan itu sangat mempengaruhi industri ternak, karena sebagai tindakan pembalasan Indonesia kemudian mengurangi kuota impor.

Sekarang menurut John McVeigh, dengan musim kering kembali melanda beberapa bagian Australia, jatuhnya harga ternak, dan juga sulitnya menjual ternak ke negara lain membuat para peternak sapi Australia mengalami kesulitan ekonomi.

"Turunnya kuota ekspor ke Indonesia menjadi sumber masalah utama, dan banyaknya ternak yang tidak bisa dijual sangat menyusahkan peternakan juga yang mengalami masalah kekeringan." kata John McVeigh.

"Kami perlu melakukan sesuatu untuk membangun kembali hubungan antarpemerintah, dengan mitra ternak sapi terbesar kita." tambah McVeigh.

Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya, sebenarnya penurunan kuota impor sapi yang dilakukan Indonesia merugikan kedua negara, baik Indonesia maupun Australia. Ketidakmampuan Indonesia melakukan swasembada produksi, menyebabkan harga daging sapi melonjak tajam.

Namun di Australia dengan tekanan yang kuat dari kelompok penyayang binatang, Australia, belum banyak melakukan lobi untuk meningkatkan ekspor karena belum bisa memastikan tidak akan terjadi lagi "penganiayaan" terhadap sapi di rumah pemotongan hewan.


Penulis: L Sastra Wijaya
Editor : Agus Mulyadi