Rabu, 16 April 2014

News / Internasional

Unjuk Rasa Menolak Formula 1, Berakhir Rusuh

Kamis, 18 April 2013 | 22:29 WIB

Baca juga

MANAMA, KOMPAS.com — Polisi anti-huru hara Bahrain, Kamis (18/4/2013), terpaksa menembakkan gas air mata dan bom kejut ke arah para demonstran Syiah yang melemparkan bom molotov ke arah polisi dalam sebuah unjuk rasa anti-Formula 1.

"Katakan tidak kepada Formula 1" dan "Balapan Anda adalah kejahatan", demikian para pengunjuk rasa berseru. Pernyataan itu mengacu pada keputusan untuk terus menggelar lomba balap Formula 1 di Bahrain, meski keluhan pelanggaran HAM penguasa Sunni terhadap warga Syiah terus berlangsung.

Aksi unjuk rasa itu berakhir rusuh setelah pengunjuk rasa melemparkan bom molotov ke arah polisi  yang kemudian dibalas dengan tembakan gas air mata dan bom kejut.

Koalisi Revolusi Pemuda 14 Februari, sebuah kelompok peretas bawah tanah yang menggalang unjuk rasa, dalam akun Twitter-nya mengklaim massa berhasil menguasai jalanan dengan "semangat baja".

Polisi mengatakan sudah menahan enam orang yang memblokir jalan raya dan membakar sejumlah mobil, di saat unjuk rasa semakin intensif saat sesi latihan balap Formula 1 digelar di sirkuit di Sakhir, sebelah selatan ibu kota Manama.

Human Right Watch (HRW) menuding penyelenggara Formula 1 "mengabaikan adanya pelanggaran HAM" di Bahrain. HRW menambahkan aparat keamanan Bahrain bersikap semakin represif ketika pergelaran Formula 1 semakin dekat.

"Bahrain semakin memperketat pengawasan terhadap unjuk rasa saat Formula 1 semakin dekat," kata Direktur HRW Timur Tengah, Sarah Leah Whitson.

"Para penyelenggara Formula 1 memilih 'mengubur kepala mereka di pasir', memilih terus menggelar balapan yang sebenarnya memicu represi," tambah Sarah.

Pada awal 2011, Bahrain sempat diguncang aksi unjuk rasa pro-demokrasi sebulan penuh yang akhirnya bisa dipadamkan oleh pasukan Teluk pimpinan Arab Saudi.

Pada 2011, pergelaran Formula 1 di Bahrain akhirnya dibatalkan. Namun, pada 2012 balapan jet darat itu kembali hadir di Bahrain.

 


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: