Selasa, 21 Oktober 2014

News / Internasional

Semakin Banyak Wanita Indonesia Menikah Pria Australia

Jumat, 12 April 2013 | 17:05 WIB

ADELAIDE, KOMPAS.com - Semakin banyak warga Indonesia yang pindah ke Australia adalah wanita yang menikah dengan pria Australia. Mereka ini potensial untuk dibina karena memiliki nilai ekonomi yang bermanfaat bagi kedua negara, Australia dan Indonesia.

Demikian yang dikatakan oleh Prof Graeme Hugo, seorang ahli demografi dari Universitas Adelaide dalam simposium mengenai migran dan diaspora Indonesia yang diselenggarakan oleh Universitas Flinders hari Jumat (12/4/2013) di Adelaide. Selain Prof Hugo, juga tampil beberapa warga Indonesia di Adelaide yang berbicara sebagai diaspora membeberkan pengalaman mereka hidup dan bekerja di Australia selama ini. Selain itu juga tampil beberapa pakar masalah migran dari Universitas Indonesia, Pierre Marthinus and Dwi Ardhanariswari Sundrijo serta Dr Muradi dari Universitas Padjadjaran Bandung membeberkan masalah migrasi di dalam Indonesia.

Menurut Prof Hugo yang secara khusus mengkaji pola migrasi warga Indonesia ke Australia, menggunakan data-data yang didapatnya dari Sensus Kependudukan Australia, selama ini pembicaraan mengenai migrasi selalu difokuskan pada perpindahan penduduk satu arah dan tidak berlanjut. "Padahal sebenarnya migrasi itu tidak selalu terjadi sekali. Ada yang namanya gerakan jangka panjang. Mereka yang pindah, misalnya ke Australia dan tinggal selama 12 bulan dan kemudian kembali ke Indonesia selama beberapa waktu dan kemudian kembali lagi." kata Prof Hugo seperti dilaporkan oleh koresponden Kompas di Adelaide, L. Sastra Wijaya.

"Sebagai contoh ada seorang warga China yang tinggal di Australia yang tiba di tahun 2001, dan sampai sekarang dia sudah lebih dari 360 kali bolak-balik China-Australia." kata Prof Hugo.

Jumlah wanita Indonesia yang lebih banyak menikah dengan pria Australia tampak dari statistik mereka yang berusia antara 20-45 tahun. "Mereka ini berpotensi memberikan sumbangan ekonomi bagi kedua negara, dengan perjalanan yang mereka lakukan." tambahnya.

Namun salah satu hambatan yang ada di Indonesia, menurut Prof Hugo, adalah tidak seperti Australia, Indonesia tidak mengakui adanya dua kewarganegaraan. Ini membuat wanita Indonesia yang menikah dengan pria Australia cenderung untuk menetap di Australia.

Hal itu ditekankan juga oleh Associate Profesor Veronica Soebarto dari Universitas Adelaide. Sebagai ahli di bidang arsitektur, Veronica mencontohkan dirinya sendiri yang memilih mengajar di Australia. "Tantangan yang sering saya hadapi adalah pertanyaan mengapa saya tidak pulang ke Indonesia, bekerja di sana. Seringnya adanya pertanyaan ini membuat saya merasa bersalah. Namun karena tidak adanya dua kewarganegaraan membuat saya memutuskan untuk tidak bekerja di Indonesia." kata Veronica.

Namun, baik Veronica maupun pembicara lain, Andrian Wiguna, seorang pegawai negeri di Campbelltown City Council, semacam kecamatan di kota Adelaide, mereka masih berusaha "membantu" Indonesia melalui berbagai keahlian yang mereka miliki.


Penulis: L Sastra Wijaya
Editor : Rusdi Amral